Baiknya gue cukup gue yang tau, penilaian Lo semua gak bikin kenyang!
-Ladisya
***
"Lepasin dia."
Semuanya menoleh. Lebih tepatnya memastikan siapa yang sudah berani ikut campur dalam hal ini. Tentu saja itu bukan Reyga. Caranya bicara terlalu manis untuk berlagak bagaikan pahlawan tengah malam.
"Sorry, bro, ini bukan urusan lo." Erwin menyorot tidak suka.
Algi tersenyum sinis. Menghisap dalam rokoknya yang sudah akan habis, membuang, lalu menggilas puntungnya hingga padam. "Tapi tiba-tiba gue tertarik buat berurusan. Gimana, dong?"
"Bacot, lo, Al!" Erwin naik darah. "Kalo lo mau cari mangsa, cari yang lain aja. Ini cewek udah diboking sama Reyga."
"Sayangnya gue gak peduli." Algi bersandar di dinding, melipat satu kakinya ke belakang. "Harusnya lo semua gak main keroyokan kek gini. Malu sama burung."
Terdengar beberapa dari mereka menggeratkan gigi kesal. "Pergi, atau lo kita abisin di sini."
Seolah ada yang menggelitiknya, Algi malah terkekeh. "Langsung aja sih, gak usah pake ngancem."
"Lo!—"
"Gawat, guys!" tiba-tiba seorang cowok berkulit gelap menyerobot. Terlihat kepanikan di wajahnya. Membisikkan sesuatu kepada kawanannya.
"Kok bisa?!" jerit Erwin. "Reyga mana?!"
"Itu gak penting! Mending sekarang kita cabut dari sini!" histeris si cowok asing.
Mereka semua melepaskan Disya secara kasar. Hampir gadis itu terjerembap jika saja Algi tidak menahan tubuh Disya membentur lantai. "Lo gapapa?"
"Bawa gue pulang, please!" Disya memohon dengan suara mendesah yang tidak dibuat-buat.
Saat Algi bersusah payah merangkul Disya yang tidak bisa diam, riuh kekacauan menyambut pendengaran serta penglihatannya. "Woi, ada apa sih?" Algi memberhentikan salah satu dari mereka yang berlarian.
"Ada banyak polisi di depan. Tempat ini di gerebek. Katanya, di sini ada pesta narkoba." jawabnya sambil ngos-ngosan.
Mampus! Batin Algi memaki.
Tanpa pikir panjang, Algi membopong tubuh Disya ala brydal style. Berhubung dirinya sudah tidak asing dengan tempat itu, Algi sudah hafal pintu keluar selain yang tadi ia lewati untuk masuk.
"Enghh~~" Disya terus-terusan bergerak gelisah dalam gendongan Algi. Membuat cowok itu kelimpungan sendiri.
"Sial! Gue musti gimana lagi?!" dumel Algi resah.
"Mobil gueh, dih sanah~" suara Disya terputus-putus. Gadis itu menarik tas di bahunya yang menggantung dan hampir terjatuh.
Secepat kilat Algi menangkap maksud Disya. Berjalan terburu menuju sedan putih yang terparkir di dekat area klub. Diambil tas mini milik Disya yang di dalamnya terdapat kunci mobil.
Tepat setelah pintu terbuka, Algi langsung memasukkan Disya, memastikan posisinya nyaman. Selanjutnya cowok itu menyusul dan menjalankan mobil tanpa tujuan.
Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana menjauhkan diri dari klub, terlebih menghindari masalah yang bisa membuatnya berada dalam situasi tidak baik. Kemarahan sang Papa, contohnya.
Di saat dalam perjalanan, ponsel Algi berdering menandakan panggilan masuk. Dirogoh saku jeans hitamnya, melihat nama yang tertera 'kamvret' dengan profil kontak monyet nyengir.
"Ya nyet?"
"Lo di mana? Gak kenapa-napa, kan?" Naufal terdengar sedikit risau.
"Gu—"
"Ah~ enghh~ panash…" Disya benar-benar mirip belut. Meliuk-liuk tidak nyaman di tempatnya.
"Lah, si anying! Lo lagi perang ranjang, nyet?!" tebakan Naufal sembarangan.
Masa bodoh. Algi menggeram karena ucapan Naufal. "Udah ah, nanti gue jelasin." memutuskan telepon secara sepihak.
"Rumah lo di mana?" tanya Algi mencoba mencari tahu. Dan dalam keadaan pusing luar biasa, Disya memberitahukan jalan menuju ke rumahnya.
Dalam perjalanan, gadis yang Algi cap sebagai salah satu racun sekolah ini, tidak bisa anteng di tempat. Sekarang, Disya menyingkap dress sepaha yang ia pakai, sampai memperlihatkan dalaman berwarna krem. "Please, tolongin gue."
Memilih memberhentikan mobil di tepi jalan dengan penerangan remang-remang, Algi tak mampu berkutik saat Disya malah menempel padanya serta meraup bibirnya dengan amatir.
Algi mendesis. Dugaannya benar. Gadis ini, ada dalam pengaruh obat perangsang. "Diem!"
Secepat itu posisi berbalik. "Gue gak mau main sama cewek yang lagi gak sadar."
Iris kehijauan di depannya tampak gelap. Antara kasihan dan setengah tergoda. Tentu saja, Algi adalah lelaki tulen yang dengan mudahnya terpancing oleh hal sedemikian rupa.
Pandangan Disya terlalu mengabur. Menjadikan wajah Algi hanya terlihat seperti sebuah lukisan minyak. Yang dirasa saat ini hanyalah hasrat yang membuncah tak terbendung.
Menenggak salivanya kasar, Algi berujar. "Fine! Gue bakal bantu mengurangi reaksi oba— hmp—"
Anjir! Gak enak banget. Mainnya amatir gini. Batin Algi bersorak.
Memilih tetap menahan kedua pergelangan Disya, walhasil sekarang jemari mereka saling bertaut. Algi menarik diri, merasakan bibirnya mulai kebas. Gerakan gadis di hadapannya terlalu buru-buru.
"Santai, lo nikmati cara main gue. Perlahan, rasa aneh dalam diri lo akan berkurang." perintah Algi berusaha tenang, meskipun napasnya tidak teratur.
Disya menurut, membiarkan Algi mendekat kembali untuk memulai aksinya. Dimulai dari daun telinga yang dikulum lembut, leher yang dicecap dengan gerakkan sensual, hingga berhenti di antara gundukan padat di depannya. Desahan Disya memenuhi mobil, membagi fokus Algi antara ini hanya permainan sejenak, atau nyata.
Shit! Gue turn on!
Mengabaikan semuanya. Menikmati apa yang di depan mata, sampai Algi menyadari satu hal ketika jari nakalnya menelusup kain krem di sana. "Lo," Algi berbisik. "Masih virgin?"
Di sela-sela napas terengah, Disya mengangguk seadanya. Demi apapun, ini yang pertama baginya.
Algi menjauhkan diri. Gadis ini tidak punya masalah dengannya. Bukan hak Algi untuk mengambil apa yang bukan bagiannya. Semakin sadar bahwa Disya sudah tidak se-agresif barusan. "Lo tidur aja. Gue bakal anterin lo pulang."
•••••••
Gerbang terbuka otomatis. Memori Algi terlalu tajam untuk mengingat-ingat alamat rumah yang Disya sebutkan. Sepi. Tidak ada siapapun di sana. Hanya sorot lampu teras dan lampu halaman menjadi penerang.
Harapan Algi, semoga dia tidak salah rumah. Tidak disangka pencuri atau apapun itu.
Berhenti di depan teras, Algi turun dari mobil. Hati nuraninya masih berfungsi untuk tidak membangunkan Disya yang sedang terlelap.
Membopong gadis itu, ternyata merepotkan. "Permisi!"
Senyap. Tidak ada sahutan. Iseng saja Algi menendang pintu, dan ajaibnya pintu tersebut terbuka lebar. "Antara ceroboh, atau emang pemilik rumah ini terlalu santai."
Bersyukur. Algi tak salah rumah. Melihat pajangan foto Disya di rumah ini menguatkan keyakinan Algi.
Algi tak menganggap dirinya tipe romantis yang akan menidurkan Disya di kamarnya. Melainkan sofa coklat itu menjadi pilihan. "Lo berhasil nyusahin gue malem ini, queen bullying."
Memilih pergi sebelum nanti bisa saja Disya terbangun, sadar dan menganggap Algi sebagai pencuri. Tentu saja itu bukan kejadian yang menyenangkan.
???
Mading penuh. Pengumuman mengenai tertangkapnya beberapa siswa Pelita Harapan menjadi trending topik.
Mereka semua adalah; Areyga Fantolix, Erwin Sebastian, Khabram Elvrad dan Rysaka Gohandy.
Sebelah alis Disya terangkat. Senang menyergap karena mengetahui seseorang yang semalam hampir menodainya, kini masuk bui.
"Semalam lo ke mana, Sya?" Elin bertanya sok perhatian.
Disya memutar kepalanya. "Harusnya gue yang nanya! Semalem kalian pada ke mana?!"
Riri bergerak kaku. "Sorry, Sya, tadi malem itu kita panik karena tiba-tiba ada banyak polisi. Jadi gak sempet nyariin lo, deh."
"Udah-udah, berisik lo semua!" Disya meninggalkan teman-temannya.
Bertepatan kala Disya melenggang, ia berpapasan dengan Algi, Galins dan Naufal. Seperti biasanya, Disya selalu terpusat kepada Galins. Sedang mata Algi hanya fokus pada leher gadis itu.
Kok gak merah, ya?
"Pada heboh gegara si Reyga ketangkep. Poor Reyga! Doi masuk penjara pas di malem ultahnya." Naufal berceloteh. Lebih tepatnya asik sendiri.
"Berisik lo!" sembur Galins.
"Lah, kan gue ngomongin fakta. Senakal-nakalnya kita nih, cuy, gak pernah tertarik kan? Buat pake narkoba." ujar Naufal ribet.
"Gue masih pengen menjaga nama baik, Papa." timbrung Algi mengeluarkan rokok dari saku seragamnya.
"Kalo gue sih, masih sayang nyawa aja. Katanya kalo overdosis bisa berabe." terang Naufal menyodorkan puntung rokoknya untuk dipakai Algi menyalakan rokok miliknya.
"Kapan-kapan gue mau coba." celetuk Galins.
"Alah… rempeyek." Naufal menoyor bahu Galins, membuat cowok itu memutar bola mata.
Tiba-tiba saja, tiga cowok menghadang jalannya Algi cs. Geng Galins hanya membuang napas malas. "Kenapa lagi?" tanya Galins.
"Malam ini, taruhannya sepuluh juta!" ujar si ketua geng.
Algi dan Galins mendengus, sementara Naufal terkekeh. "Tillo, Tillo, lo gak capek apa? Kalah mulu dari Galins?"
"Gak usah bacot deh, lo. Sanggup apa enggak!?" seru Tillo nyalang.
"Gue tunggu!" sambut Galins kemudian berlalu pergi.
Tillo bersiul puas, kemudian segera pergi. Hanya tersisa Algi dan Naufal. "Lo susulin si tai sana. Gue ke toilet bentar."
Naufal manut saja. Memisah dari Algi untuk menyusul Galins yang sudah lumayan jauh. Saat Algi berbalik, tak disengaja cowok itu menabrak seorang siswi yang tengah membawa tumpukkan buku pelajaran.
"Astaga, maaf kak, maaf." cicit gadis itu memungut buku yang telah berserakan.
Algi turut membantu memungutkan buku-buku tersebut, lalu memberikannya kepada siswi tadi. "Hati-hati."
Gadis dengan name tag Inara itu mengangguk semangat. "Iya. Permisi, kak."
••••••••
Jengkel. Dongkol. Sebal. Entah kenapa akhir-akhir ini Disya selalu disambangi kesialan. Teman tidak berguna. Shinta yang tidak hati-hati membawa gelas minumannya, menyebabkan minuman itu tumpah mengenai bagian leher hingga d**a Disya.
Membersihkan diri adalah hal wajib. Disya adalah gadis paling risih dengan hal kotor maupun basah. Sekarang, di sinilah Disya, toilet.
Memperhatikan lehernya yang terdapat kissmark berwarna keunguan. "Katanya waterpruf, malah luntur sekarang. Gimana, sih?!"
Disya mengomel kesal. "Ya kali, gue keluar dengan tampang kek gini."
Algi yang ada di sebelah pun melonggokkan kepalanya. Mendapati Disya yang sedang mengoleskan sesuatu ke lehernya.
Oh… pake makeup toh?
"Emang kurang ajar tu cowok! Seenaknya ngambil kesempatan dalam kesempitan! Mana gue gak bisa liat mukanya dengan jelas, lagi. Awas aja kalo ketemu." Disya mengoceh di depan cermin besar.
"Tapi kalo ketemu lagi, malu dong! Dia kan udah pegang-pegang gue! Ah, gila!" Disya kian frustasi.
Merasa ada yang memperhatikannya, Disya menoleh mendapati Algi yang melihatnya dengan tatapan tak bisa diartikan. "Apa lo liat-liat?!"
Kedua alis Algi mencuram. Dahinya berkerut dalam. "GR lo!"