Episode 12

1013 Kata
Sebelum mobil pengantar sampai di sekolahan, ia menata beberapa buku yang tidak dimasukkan kedalam tasnya hendak dibawanya keluar dari dalam kendaraan. "Pak, aku turun disini saja." Tergesa-gesa lantas keluar, bergegas jalan kaki menuju ke gerbang sekolah sedikit berlari. "Paaaaak …. Tungguu!" Teriak-nya semasih berlari kala tampak gerbang sekolah hendak di tutup. "Loh, tumben sekali Non, datangnya terlambat?" Tanya sang satpam sekolah. "HuffHuff-Iya nih, Pak." jawabnya tampak napas yang masih terengah-engah sambil ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Nih Pak, untuk bapak. Dimakan ya .." Menyodorkan bekal makanan yang diberikan oleh sang ibu lalu beranjak Pergi. "Loh, eh-Non, walah … Malah ngacir saja anak itu, biyuh, biyuh …." Sang satpam menggelengkan kepala sebabnya seringkali Lavina melakukan hal demikian padanya. "Tau saja kalau saya sudah lapar Non. Hehehe" ___ Lavina kini berlari menuju ruang kelasnya. Kegiatan Literasi jua sebentar lagi hendak berlangsung seperti biasa. Namun beruntung saat ini wali kelas yang mengajar hari ini (Olahraga) belum hadir kedalam ruang kelasnya. Lavina masih terus berlari laksana motor melaju kencang, kini tiba di ruang kelas lekas menuju ke tempat duduknya. Ciitttt! Cara berhentinya pun laksana motor ngerem mendadak. "Huff--Huff--Huff--" Napas masih terengah-engah seraya memegangi perut pertanda lelah sangat dirasakannya. Tentunya menarik perhatian seluruh rekan-rekannya. "Tumben amat loe Vin, hampir telat. Kita kira kagak masuk sekolah Loe hari ini." Celetuk Cika. "Ho--Oh, Huff, Huff" Lavina tak begitu menggubris celotehan rekan-rekannya, beranjak duduk "Untung hari ini Kegiatan olehraga bukan matematik, Hihi" Celoteh Cika lagi selama Lavina baru saja duduk di kursinya, Cika berkata demikian lantaran kelompok mereka memang paling enggan dengan pelajaran matematika. ____ Guru olahraga kini memasuki ruang kelas lekas memerintahkan seluruh siswa-siswi mengikuti kegiatan olahraga. Usai menyampaikan kalimatnya guru itu bergegas keluar di susul siswa-siswi hendak mengikuti kegiatan. Disisi lain ada Rio beserta rombongan jua melangkah hendak keluar melewati meja Lavina. Dan lagi-lagi dia membuat ulah, yakni tiba-tiba memukul meja Lavina. Brrak! Membuat Lavina beserta rekan-rekannya terkejut. "Woi, Bisa gak sih Loe sehari saja gak bertingkah resek hah!" Seru Cika emosi. "Memang kenapa? Masalah buat loe?" Jawab Rio dalam ekspresi yang tidak sedap di pandang di susul beberapa rekannya tersenyum ejek. "Ya tentu masalah buat gue, kenapa loe gak pindah sekolah aja si, muak gue liat tingkah loe yang resek itu, ngerti Gak!" Pekik Cika emosi lantas Lavina langsung memegangi lengannya. "Udah Cik, hentikan." Bisiknya. "Eh, loe ngomong apa barusan hah? jangan asal bacot loe kalau ngomong jadi cewek!" Jawab Rio tersulut emosi jua lantaran dia memang bertempramen tinggi. Tempramen tinggi yang di miliki Rio masuk dalam kategori tidak pandang bulu, entah laki-laki maupun perempuan akan tetap dia lawan. Lantas ia mengangkat tangannya hendak menampar Cika. Tapi di hentikan langsung oleh Lavina dengan cara menangkis tangannya. Seet! "Cukup Rio, Kamu benar-benar keterlaluan mau mukul cewek. Apa kamu tidak malu, hah?" Ucapnya. "Minggir Loe Vin, Gak usah ikut ngomong!" Pekik Rio tak mempedulikan apa yang di ucapkan oleh Lavina. Semasih suasana panas akibat pertengkaran mereka didalam ruang kelas, tiba-tiba ada suara dari pintu masuk. "Hei, ada apa ini ribut-ribut?" Dialah Sang Guru. Sontak semula gaduh kini hening seketika, bahkan Rio tampak cengengesan nan garuk-garuk kepala. "Ah, tidak ada apa-apa kok Pak. Kita hanya bercanda hehe .. Ya gak, Teman-teman …?" Ucap si Rio. "Cih, Munafik" Gumam Cika menahan kesal. "Tadi saya kan sudah bilang keluar kelas untuk mengikuti kegiatan, kenapa kalian malah masih didalam? Ah, sudah-sudah cepatlah bergegas." Tegas sang Guru sebelum akhirnya beranjak keluar lagi. Sementara Rio langsung melirik tajam ke Cika, Lavina dan Vani, begitu jua dengan Cika. Namun, tiada lagi percakapan melainkan dia beserta rombongan langsung keluar kelas dengan gaya petantang-petentengnya. ___ Lavina, Cika dan Vani jua beranjak keluar menuju ruang ganti terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan olahraga. "Huh! Awas saja itu Si Rio, ingin rasanya gue cabik-cabik mulutnya!" Gumam Cika berbicara Sendiri seraya meremas-remas kedua tangannya pertanda kesal semasih Lavina maupun Vani sedang berganti pakaian. "Kamu kenapa sih Cik, ngomel-ngomel sendiri kayak orang kesurupan." Celetuk Lavina meliriknya, senyum nan menoleh ke arah Vani. "Tau tuh anak, Kumat kali." Sambung Vani. "Elah Vin, Van, Astaga … loe orang kebiasaan banget deh langsung melupakan kejadian yang baru aja terjadi gitu aja, huh!" Jawab Cika tampak asam. "Maksudmu Karna si Rio tadi kah?" Lanjut Lavina. "Yaiyalah mau siapa lagi. Muak banget gue sama tu Cowok! si biang kerok yang bikin Mood gue berantakaaan!" Gerutu Cika. "Astaga … Yasudahlah Cik, tak perlu di ambil hati. Kita semua kan sudah tau kek mana sifat tuh cowok." Sambung Vani. "Betul Kata Vani tuh Cik, jangan terlalu kamu pikirkan, nanti lama-lama benci berubah jadi cinta loh ..." Goda Lavina. "Idih Najong amat gue cinta sama tuh cowok si biang kerok. Amit-amit! Cuih, cuih" Jawab Cika. "Heleh ... udah merah tuh pipi kamu Cik. Ya gak Vin … Haha" Goda Vani. "Hilih apa'an si kalian orang kek tau aja apa tuh cinta, Huh!" Gumam Cika semakin memanyunkan bibirnya. Lavina tertawa-tawa sembari mengikat rambut panjangnya hendak di kuncir kuda. Lantas semasih dia pada posisi Itu, semula Cika dan Vani masih saling berbincang-bincang. Lalu mendekat ke arahnya lantaran ada sesuatu yang mereka lihat. "Eh Vin, itu … di leher loe apaan?" Tanya Cika secara langsung, lantaran tampak ada sebuah luka terlihat di leher Lavina tepat sedang mengikat rambutnya ke atas. Lavina terdiam, sedikit membelalak lantaran kembali teringat mimpi itu. "Am--ini, bukan apa-apa kok." buru-buru menyelesaikan mengikat rambutnya. Cika yang memiliki rasa keingintahuan cukup tinggi (Kepo) membuatnya justru makin mendekat ke arah lehernya. "Eh, Vani kamu lihatlah di leher Vina, ini … bentuknya kok aneh begini ya...?" Cika terheran, yang mana membuat Lavina terdiam seribu bahasa. "Eh, Mana, mana, mana aku lihat dong" Vani ikut serta melihat dari jarak dekat. "Eh … Iya, ini luka atau apaan Vin? Kok bentuknya kayak ukiran begini?" Vani teramat penasaran lantas menyentuhnya dengan jemari. "Awh, sakit kunyuk! Apaan sih kalian orang. Sakit tau" Lavina sedikit bergeser menjauh dari mereka. "Eh, apa loe bikin tato di leher Vin?" Duga Cika. "Tato? Ada-ada saja kalian orang. Bukan lah mana ada aku mentato." Lavina mengalihkan, tapi ekspresinya tampak bimbang. "Lah terus … itu di leher kamu apaan Vin, kok aneh banget?" Vani mengulangi kalimat pertanyaan Cika tadi. "Ini--Anu-- ini--"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN