Fiona melirik jam berwarna biru muda yang melingkar indah di pergelangan tangannya ketika baru saja memasuki kelas. Ia berjalan pelan ke tempatnya duduk kemudian mengeluarkan setumpuk notes dan sekotak s**u cokelat dari dalam tas.
'Semangat buat hari ini' tulis Fiona di notes yang terletak di paling atas. Ia juga menulis tanda pengirim di pojok sebelah kiri notes, 'F♡'.
Setelah itu Fiona mencabut perekat notes yang tadi ditulisnya dari tumpukan notes yang lain, lantas menempelkannya pada kotak s**u. Fiona bersyukur, di jam segini hanya dia yang baru datang. Ia bangkit dari duduknya sambil menentang kotak s**u tadi menuju loker Richard, yang berjarak lima loker dari lokernya.
Ketika sudah berdiri tepat di depan loker Richard, Fiona sejenak menoleh, melihat ke arah pintu kelas, kalau-kalau ada orang yang datang. Setelah memastikan tak ada orang juga memantapkan hatinya, jarinya mulai bergerak menekan empat tombol dari sepuluh tombol yang ada, lalu membuka pintu loker.
Padahal ia sudah berkali-kali melakukan ini, menaruh sesuatu secara diam-diam di loker Richard, tapi tetap saja Fiona selalu merasa khawatir. Ia takut cowok itu akan mengetahui hal ini dan menolaknya.
Ya, walaupun sesungguhnya ia sudah tahu kalau memang Richard pasti sama sekali tidak menyukainya. Tetapi tetap saja, akan lebih menyakitkan jika mendengar langsung dari mulut cowok es batu itu. Begitu menurut Fiona.
Sesudah menaruh kotak s**u tadi di tempat yang pas, Fiona menutup loker Richard. Ia berniat untuk kembali duduk di tempatnya dan membaca novel yang baru dipinjam dari salah satu temannya, Alvita. Dan ia pun berbalik.
"Aah-" Fiona hampir saja berteriak karena terkejut sebelum akhirnya cowok di depannya dengan cepat menutup mulutnya. Ben.
"Demi apa, Ben? Ngapain lo di sini? Kalau tadi jantung gue beneran copot, gue janji bakal gak restuin hubungan lo sama Carol." Fiona bersandar pada loker di belakangnya sembari mengelus d**a.
"Apaan sih, Na, ancaman lo. Lo juga, ngapain di sini, di depan loker ...," Ben sedikit melirik loker di belakang Fiona, "Richard? Hm, kayaknya gue mencium aroma-aroma mencurigakan," lanjutnya sambil mengendus-ngendus area di sekitar tubuh Fiona.
"Ck, apaan sih. Udah ah, minggir!"
Fiona mendorong bahu Ben pelan dan melangkah menuju bangkunya. Ben pun juga melakukan hal yang sama, dan kebetulan tempatnya duduk terletak tepat di depan meja Fiona dan Carol. Dan inilah yang menyebabkan Fiona harus menahan panas di telinganya hampir setiap hari, akibat perkelahian antara dua insan yang menurutnya nanti akan bersatu juga.
Keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Fiona yang sedang larut dalam bacaannya dan Ben yang sibuk menulis sesuatu di bukunya.
Beberapa detik kemudian, Ben membalikkan tubuhnya, menghadap Fiona. Sedangkan gadis itu hanya sejenak melirik Ben dan matanya kembali fokus pada buku yang sedang dibaca.
"Na," panggil Ben dan hanya dibalas deheman.
"Na," lagi, panggilan Ben hanya dibalas deheman oleh Fiona.
"Fiona,"
"Hm."
Karena kesal merasa diacuhkan, Ben dengan kasar merampas buku yang dipegang Fiona.
"Apaan sih, lo. Balikin sini!" Fiona bangkit berdiri, berusaha meraih buku itu yang berada di tangan Ben.
"Jawab dulu pertanyaan gue," ancam Ben.
"Ya tapi balikin dulu," Fiona masih berusaha meraih buku tersebut yang sekarang malah disembunyikan Ben di balik tubuhnya.
"Jawab dulu," tukas Ben.
Fiona menyerah dan kembali duduk. "Yaudah, apa?"
"Jawab yang jujur, tapi." Ben masih belum memberitahu maksud tujuannya, membuat Fiona semakin jengkel.
"Iya, udah cepetan."
"Kira-kira, Carol ada perasaan gak sama gue?"
Krik... Krik... Krik...
Raut wajah Fiona yang semula menahan kesal berganti menjadi raut bingung.
"Ehm, gue gak tau," aku Fiona.
"Masa sih lo gak tau, lo kan sahabatnya."
"Ya, dia gak pernah cerita," bela Fiona.
"Tapi, seenggaknya lo tanya, kan?!"
"Yaudah, kenapa jadi lo yang marah!"
Fiona sendiri tak tahu, apa Carol menyukai Ben atau tidak. Carol tak pernah menceritakannya. Fiona pun juga tak pernah bertanya. Paling-paling, Carol cuma mengomel karena ulah Ben yang suka sekali membuatnya naik darah. Itupun juga hanya beberapa kali. Namun, menurut Fiona sendiri, pasti di dalam hati Carol, ada sedikit rasa untuk Ben. Ya, sedikit saja. Dan ini menurutnya, bisa benar, bisa juga salah.
Tiba-tiba, Fiona tersenyum jahil. Ia mengingat surat, atau lebih tepatnya kertas kecil yang kemarin diberikan Carol. Ia mengeluarkan kertas tersebut dari dalam tas dan menggenggamnya.
"Gue beneran gak tau, dia ada rasa sama lo atau nggak, tapi gue punya satu cara biar Carol bukain hatinya buat lo," ucap Fiona.
"Dan, itu ada di sini," Fiona mengacungkan kertas tadi tepat di depan wajah Ben.
Ben mengangkat alisnya, walaupun sebenarnya ia terlihat sangat antusias, "di kertas sekecil itu?" tanyanya ragu. Fiona mengangguk semangat.
"Apa?"
"Tapi janji dulu, gak boleh ngasih tau siapapun, terutama Carol," peringat Fiona dengan wajah serius.
"Iya, janji," jawab Ben.
"Beneran?" Ben menggangguk.
Fiona terdiam, tampak berpikir. "Ah, gak jadi deh," kata Fiona hendak berbalik, namun lengannya ditahan Ben.
"Ya, elah, Na. Gue gak bakal ngasih tau siapa-siapa, kok. Beneran. Lagian, lo kan udah nunjukin gue kertas itu. Kan percuma kalo gak dikasih." Ben berusaha meyakinkan Fiona dan Fiona malah berusaha menahan tawanya.
"Awas lo ya, kalo bohong!"
"Sumpah, gak bakal, Na."
Fiona lalu menyerahkan kertas itu pada Ben. Cowok itu menyengir dan seperti tidak sabar melihat isi kertas yang diberikan Fiona. Dan tanpa sepengetahuan Ben, Fiona masih terus menahan tawanya.
Wajah Ben yang semula tampak senang dan bersemangat, sedetik kemudian menjadi datar setelah membaca isi kertas itu yang tak sampai lima detik.
"t*i, lo!" ujar Ben sambil melempar kertas kecil itu pada Fiona, yang malah jatuh di meja, lantas berbalik menghadap depan.
Sedangkan Fiona, dia sudah tak bisa membendung tawanya lagi. Tawanya pecah begitu saja, menghilangkan kesunyian di kelas yang baru terdapat ia dan Ben. Ia senang, karena sudah mendapat korban, setelah kemarin menjadi korban Carol.
Ia memegang perut dan air matanya sedikit keluar akibata tawanya. Ia melirik sebentar pada kertas tadi yang di dalamnnya tertulis : 'Ciee, yang kepo :D' dan mengingat ekspresi Ben, lantas kembali tertawa.
“Tapi …, jadi selama ini lo?” Ben berbalik melihat Carol dan loker Richard bergantian. Fiona mulai was-was.
“Ben.”
“Pantes aja lo datengnya pagi mulu, ternyata ada u di balik b,” Ben gantian tertawa.
“Ben, gua gak becanda, loh, ya. Kalau sampe nyebar beritanya, siap-siap aja lo.”
“Astaga, serius banget, sih, Na. Lo takut, ya?”
Fiona menggigit bibirnya. “Iya, lah, takut! Gue gak tahu harus gimana kalau sampe dia tahu yang lancang masukkin barang-barang gak penting itu gue.”
“Gue juga sebenarnya udah tahu sih kalo lo suka sama dia. Soal fake account dan semua jajan yang ada di loker Richard gue juga udah lama curiga, mengingat kepribadian lo yang kek gini.”
“Se-kelihatan itu, ya?” Fiona bertanya dengan nada cemas. Sedikit merutuki diri sendiri karena saking asiknya menikmati segala cara dalam menyukai Richard, ia malah melupakan hal penting seperti ini. Ia harusnya tidak boleh terlalu mencolok. Hasilnya sekarang salah satu temannya ternyata malah sudah mencurigainya dari lama.
“Lagian kita temenan dari kapan sih, Na? Seingat gue, kita nggak pernah misah kelas, deh. Ya, wajar aja gue lumayan tahu sama sifat-sifat lo.”
“Gue jadi takut, deh, Ben.”
“Dah, gak usah takut, gak terlalu kelihatan, kok. Lagian gak banyak temen kita waktu kelas dua dulu yang sekarang sekelas.”
“Jadi gue harus gimana sekarang?”
“Gimana apanya?” Ben melihat raut wajah Fiona yang kini semakin menurun. “Yah, gak gimana-gimana. Kek yang biasa aja lo lakuin gimana. Udah, lah. Jangan terlalu dipikirin, dinikmatin aja. Kayak gue, nih.”
Fiona mengangguk. “Trus lo gimana?” Ben mengerutkan kening terlihat bingung. “Carol. Lo seriusan suka sama dia?”
“Ya, menurut lo aja gimana , Na. Ben memutar matanya kesal karena Fiona tampak seperti mempertanyakan kesungguhannya. Padahal tidak seperti Fiona yang menyukai secara diam, Ben malah lebih terkesan agresif. Hanya saja entah mengapa Carol tidak terlalu memedulikannya.
Fiona menunjukkan cengirannya. Sepertinya ia harus membicarakan hal ini dengan sahabat perempuannya itu.
Saat ini Fiona, sedang berjalan mengikuti Melody yeng tengah mengibas-ngibaskan rambutnya. Fiona berusaha sabar, tempat yang sedaritadi dilewati Melody selalu saja ramai, membuatnya susah untuk menarik gadis dengan riasan tebalnya itu dan mengajaknya berbicara.
Dan akhirnya, Fiona bisa bernafps lega saat Melody melangkah menuju koridor laboratorium Fisika yang memang selalu sepi.
Melody berhenti berjalan membuat Fiona yang berjalan agak jauh di belakangnya secara sembunyi-sembunyi juga ikut berhenti, lantas keluar dari persembunyiannya.
"Keluar lo!" kata Melody, lantas berbalik membuat Fiona bingung sendiri.
Fiona yang saat ini tidak bersembunyi, otomatis tertangkap jelas oleh penglihatan Melody.
"Lo mau apa, ngikutin gue?" tanya Melody dengan nada culasnya.
"Eh, itu," Fiona menjadi kikuk sendiri dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue mau kita berteman," ucap Fiona setelah beberapa detik, yang disambut tawa Melody. Fiona sendiri merutuki dirinya sendiri karena entah bagaimana bisa kalimat konyol itu yang keluar dari mulutnya.
"Teman?" Melody kembali tertawa. "Lo pikir apa yang udah lo bilang? Teman? Heh, asal lo tau ya, teman gak ada dalam kamus hidup gue."
"Tapi kalo lo mau, ada syaratnya." Melody menyunggingkan senyum sinis andalannya.
"Apa?"
"Beliin gue satu set alat make up dan perhiasan. Yang limited edision."
Fiona malah menatap Melody heran. Hanya untuk menjadi temannya dan dia harus membelikan Melody itu semua? Ini gila. Bagaimana mungkin? Uang tabungannyapun juga pasti tak akan cukup.
"Kenapa? Gak sanggup?" Melody berbicara dengan nada meremehkan.
"Gue gak bisa," jawab Fiona akhirnya.
"Oh, yaudah, terbuktikan, kalo niat lo berteman cuma mau manfaatin gue? Entah itu uang ataupun kecantikan gue biar lo juga ikutan cantik," tuduh Melody lantas berbalik.
Lagi-lagi, Fiona menatap Melody heran. 'Hah? Apa hubungannya? Wah, geser nih orang. Udah gitu sok kecantikan lagi.' rutuk Fiona.
"Lo gak waras, ya?” ucapnya. “Gue gak bisa bukan karna gue gak sanggup buat beli itu semua. Kalo pun harus, gue bisa aja minta tambahan uang bokap buat beli itu. Tapi gue gak mau dan gue gak bisa karna emang gue gak butuh. Lo juga gak cantik jadi buat apa gue berteman sama lo biar ikutan cantik?"
“Emang mau pake buat apa juga tuh barang semua, orang liptint aja Carol yang makein,”gumam Fiona pada dirinya sendiri.
"Lo-" Melody berbalik lagi dan hendak membentak Fiona.
"Gue bilang mau berteman sama lo karena emang niat gue gitu. Niat gue baik, dan gue tulus emang mau berteman sama lo. Dan lo perlu tahu, gue bukan orang fake yang manis di awal tapi busuk di akhir, ataupun manis di depan tapi busuk di belakang. Udah, itu aja, itu semua terserah sama lo, mau apa nggak." Fiona terdiam sebentar sambil mempelajari ekspresi Melody.
"Tapi tetap aja, gue akan ngelakuin apapun biar bisa jadi teman lo."
Dan dengan begitu, Fiona berbalik pergi meninggalkan Melody yang sibuk dengan pikirannya. Namun, akhirnya ia menggeleng dan melangkah pergi.
***
Hai!
I'm back :)
Jan lupa tap lovenya yaaa, terima kasihh
<3