Chapter 11

1400 Kata
Carol menatap kursi kosong di sampingnya, hanya terdapat tas berwarna biru muda di sana. "Nih anak kemana, sih?" gumamnya. Pasalnya, ini sudah lebih dari satu jam Fiona keluar dari kelas, juga ia telah melewatkan pelajaran favoritnya, Biologi. Tumben sekali. Pikir Carol. Mendengar suara Pak Joseph yang membentak salah seorang temannya, Carol cepat-cepat mengalihkan perhatiannya pada papan tulis, yang sekarang sudah penuh dengan tulisan-tulisan yang ia sendiri tidak mengerti. Sedangkan di tempat lain, Fiona tampak tengah melangkah pelan ke arah koridor belakang. Dan seperti perkiraannya tadi, ia mendapati Tristan yang duduk bersandar pada dinding koridor sembari menyulut sebatang rokok. Bajunya compang-camping serta pada pelipis dan ujung bibirnya terdapat luka berupa robekan yang menghasilkan darah. Ia memang sempat menduga kalau Tristan akan berada di sini ketika ia mendapati bangku di belakangnya kosong, mengingat ia pernah berpapasan dengan cowok itu di sini. Fiona yang melihat darah Tristan yang terus mengalir membulatkan matanya. Dengan cepat ia melangkah ke arah cowok itu. "Lo kenapa? Ini kenapa bisa sampe berdarah?" tanya Fiona sambil mengapit wajah Tristan dengan kedua tangannya. Tristan menepis tangan Fiona kasar dan membuat ia yang sedang berjongkok agak mundur kebelakang, juga tangannya yang memerah akibat terkena ujung rokok cowok di depannya. "Bentar," ucap Fiona. Ia berlari menjauhi Tristan. Sesaat lagi batang rokok Tristan akan habis, ketika Fiona datang dengan sedikit peluh keringat akibat berlari. Ia menaruh se-pack tissue, betadine, sebotol air mineral, dan 4 buah plester di lantai. Fiona kembali melihat wajah Tristan dan meringis pelan. Ia kemudian membuka tissue tadi lantas meneteskan betadine dan akan membersihkan pelipisnya terlebih dahulu. Namun, cowok itu menahan pergelangan tangannya. Dan seperti di cerita-cerita novel yang sering dibaca Fiona, mata mereka beradu. Ia menahan napasnya. Sedangkan manik hitam Tristan menatapnya tajam, tapi tersirat akan makna. Sayangnya, Fiona sama sekali tak bisa mengartikan tatapan cowok yang sekarang masih mencengkeram tangannya erat. Dan ia baru sadar ternyata Tristan cukup—tidak, dia memang sangat tampan juga gadis itu akui, mata cowok itu indah, ada sedikit campuran cokelat di maniknya. Beberapa saat kemudian, Fiona mengerjabkan matanya lantas membuka suara. "Udah, diem!" ucapnya dengan mata melotot. Pasrah, perlahan Tristan melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Fiona. "Kenapa bisa kayak gini, sih?" tanya Fiona. "Perih, ya?" tanyanya lagi. Sedangkan Tristan hanya terdiam, menatap gerak-gerik gadis yang sedang membersihkan luka-lukanya. Fiona lantas mengambil plester untuk ditempelnya di pelipis Tristan. Kemudian, ia melakukan hal yang sama pada ujung bibir cowok itu, membersihkan dan menempelkan plester. "Lihatnya biasa aja!" kata Fiona, refleks memukul kepala Tristan membuat plesternya terlepas. Sontak, Fiona langsung meraih kepala Tristan lagi. "Tuh, kan, lepas. Makanya jangan banyak gerak," omelnya dan kembali menempelkan salah satu plester pada pelipis cowok itu. Padahal ia sendiri yang menjadi penyebab benda yang menempel di pelipis Tristan terlepas.  Gadis dengan rambut yang sudah berantakan itu berusaha membuka botol air mineral dan tetap saja tak bisa walaupun sudah dicobanya berkali-kali. Tristan merampas botol itu lalu memutar penutupnya hingga menjadi longgar dan memberikan lagi pada Fiona. Fiona tetap menerima botol itu, ia membukanya, dan kemudian kembali menyodorkan pada Tristan. Mereka berdua melakukan sesuatu yang tidak perlu sebenarnya. "Ini, minum dulu."  Tristan memutar matanya, namun tak ayal ia tetap menerima botol itu dan meneguknya sedikit. Cowok itu meraih tangan Fiona yang terkena ujung rokoknya tadi. Ia melihat beberapa saat bekas merah itu sebelum akhirnya mengambil plester yang masih tersisa satu, lantas menempelkannya pada tangan Fiona. "Makasih," kata Fiona dengan canggung. Sedangkan cowok dengan penampilan seperti habis berkelahi ini hanya mengangguk dan kembali meneguk air mineral. Fiona hendak membuka suara, namun terhenti karena Tristan yang sudah lebih dulu berbicara. "Gue mau bantuin lo," ungkapnya membuat mata Fiona berbinar seperti anak kecil yang diberikan permen.  "Tapi, ada syaratnya," lanjut Tristan lagi. Kali ini gadis yang masih berjongkok di depannya malah memutar mata jengah. "Gimana?" tawar Tristan. "Ck, apa?" "Jadi pacar gue?" jawab Tristan dengan wajah sudut bibir tertarik, menyeringai. "Lo gila?! Kita aja baru ngomong dari kemarin. Lo nggak suka gue, dan-" "Gue suka lo!" bisik Tristan menyela ucapan Fiona. Fiona terdiam, berusaha mencari kalimat yang tepat untuk membalas ucapan Tristan. "Tapi gue sukanya sama Richard. Dan, baru suka, kan? Jadi mana mungkin kita pacaran." "Lo juga baru suka sama Richard, kan?" "Nggak, udah sayang, kok," bela Fiona. "Yaudah, sih, bilang iya aja," desak Tristan. "Nggak!" Keduanya terdiam sampai raut wajah Tristan berubah. "Fiona, please, just one day," pintanya. Fiona menautkan alisnya, "kenapa cuma sehari?"  "Karena gue maunya cuma sehari. Gimana, deal?" tanya Tristan dengan wajah berharap membuat Fiona menjadi iba. “Emangnya lo mau kalo selamanya, gitu?” sarkasnya. "Please ...," mohon Tristan lagi. Fiona akhirnya mengangguk setelah beberapa saat berpikir membuat Tristan tersenyum senang. "Beneran, ya? Cuma sehari!" peringat Fiona. "Iya, bawel banget, sih," ucap Tristan lalu mencubit pelan pipi kiri Fiona. Gadis itu malah menatapnya horor. "Kenapa?" tanya Tristan bingung dan dibalas gelengan kepala Fiona. “Nggak, nggak papa.” Merasa haus juga kepanasan atas aksi tak terduga Tristan, Fiona mengambil botol air mineral yang tergeletak di samping cowok itu lantas meneguknya pelan. Setelah beberapa saat, ia membulatkan matanya. Pipi Fiona memerah dan ia menatap bergantian botol yang sedang dipegangnya dan Tristan. Lagi, Tristan menatapnya bingung. "Kenapa, sih?" "Nggak! Gue ke kelas dulu," Fiona lalu dengan cepat berjalan pergi, tak lupa meletakkan kembali botol air mineral tadi di samping Tristan. Sedangkan cowok itu meneguk air mineralnya. Kemudian tersenyum kecil menatap bibir botol. Fiona melirik jam di tangannya dan bernapas lega karena sudah waktunya istirahat. Ia tidak perlu lagi repot-repot mendengar omelan Pak Joseph dan disuruh menggambar alat reproduksi di papan tulis. Ia berjalan memasuki kelas dan sedikit tersenyum ketika melihat Melody sedang duduk di samping Carol. Di meja, tergeletak 3 kaleng softdrink dan beberapa bungkus cemilan. "Guys, guys, guys! Gue mau nanya sesuatu," teriak Fiona sembari berlari menghampiri kedua temannya. Ia duduk di bangku Ben yang sedang kosong. Entah ke mana cowok itu, padahal biasanya ia akan menempel bersamanya dan Carol. Kedua gadis itu menoleh padanya. "Kalo cowok sama cewek minum di botol yang sama, itu gimana?" tanya Fiona. "Kena, nggak?" ucap Carol lantas meminum minumannya. "Kena!" "Ciuman tak langsung, bukan, sih?"  Semburat merah muncul lagi di pipi Fiona ketika Melody berkata demikian. Ia menggigit bibirnya dan mengingat kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit lalu. Carol dan Melody saling tatap. Lantas Melody tertawa kecil sementara Carol malah terbahak. "Ciee, sama siapa, Na?" tanya Melody. "Muka lo lucu banget, sumpah! Jadi pengen nampol," kata Carol. "Apa sih, kalian!" kesal Fiona dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Fiona menatap sejenak bangku di belakang Carol yang merupakan tempat duduk Tristan. Ia menggeleng cepat dan semakin bertambah kesal karena Carol dan Melody yang terus-terusan menggodanya. Gadis itupun melangkah menuju lokernya. Senyum kembali hadir di wajah Fiona saat membuka loker dan lagi-lagi mendapati secarik kertas kecil hasil robekan, yang tertempel di dinding loker. 'Rooftop, dekat pot bunga, warna biru.' Baca Fiona setelah meraih kertas itu. "Guys, tebak apa yang gue dapat?" Fiona mengacungkan kertas yang barusan ia dapat. "Lagi?" gumam Carol disambut anggukan Fiona. "Apa?" tanya Melody penasaran. "Dua hari lalu, dia dapat surat dan karna waktu itu cuman ada dia sama Richard, dia berkesimpulan kalo itu surat Richard yang ngasih. Dan Richard sengaja pulang telat biar mastiin kalo dia baca suratnya. Dan sekarang, dia dapat surat lagi dan berkesimpulan kalo itu Richard yang ngasih. Bener, kan?" jelas Carol dibalas anggukan Fiona. "Padahal belum tentu," lanjut Carol dengan suara pelan. Fiona tersenyum manis lantas mencubit kedua pipi Carol. "Carol sayang, please, biarin sahabat lo yang imut ini seneng, ok?"  "Najong!" "Udah, ya. Gue mau keluar dulu, bye." Dan dengan begitu, Fiona berjalan keluar dengan senyum yang sangat manis. Beberapa saat kemudian, Fiona sudah berdiri di tengah-tengah rooftop. Ia kembali membaca pesan yang tertulis di kertas tadi. 'Rooftop, dekat pot bunga, warna biru.' Mata Fiona menelusuri tempat di sekitarnya, mencari keberadaan pot bunga. Dan ia menemukannya. Di sana! Di dekat pagar pembatas. Fiona menghampiri pot bunga tersebut dan mendapati kotak makan dan botol air berwarna biru yang agak tersembunyi di baliknya. Ia mengambil kedua benda tersebut lantas berjalan ke bangku yang berjarak beberapa langkah di depannya untuk duduk. Kali ini bukan kertas kecil hasil robekan, melainkan sebuah notes berwarna biru tua yang tertempel di atas kotan makan. 'Sorry, karna terlalu pengecut untuk ngasih langsung bekal ini." "Kenapa dia manis banget, sih?" ucap Fiona tersipu. Kertas tadi dicabutnya dan dimasukkan ke dalam saku. Ia membuka kotak makan tersebut, terdapat roti dengan selai strawberry. Kemudian membuka botol air dan menghirup aromanya, Jus Sirsak. Fiona terkekeh pelan, "sejak kapan dia tahu makanan kesukaan gue?" gumamnya. Lantas, ia memakan dengan lahap roti itu dan sesekali meminum jusnya. Di balik tembok, tampak Richard yang sedang menatap Fiona yang sedang makan dengan lahapnya. Lalu, tatapannya mengarah tepat pada kedua benda berwarna biru yang tadi diambil gadis itu dari balik pot bunga. "Cih," lantas Richard berjalan pergi. *** Halo! i'm back! Semoga part kali ini lebih baik ya. Hope you enjoy it! Jangan lupa tulis pendapat kalian di komentar dan tap love-nya. Dan mohon tetap dukung kami dengan cinta!<3 Terima kasihhh!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN