5. The Wolves' Alpha

1332 Kata
Detak jam dinding yang berada di seberang ruangan terdengar sangat keras dan nyaring di telinga Alinne. Ia bingung antara mengigil karena suhu khas hutan hujan tropis atau gugupnya untuk menghadap pangeran pemimpin kerajaan Archarian. Wanita yang tadi menyambut mereka di gerbang sedang berdiri menulis dan mengecek sesuatu di beberapa lembaran kertas yang di genggamnya sedari tadi. Ia nampak tak peduli dengan dua orang bangsawan yang sedang duduk berhadapan tak jauh darinya. Dan Archanne serta Alinne juga berusaha untuk tidak peduli dengan sikapnya yang tidak sopan kepada mereka berdua. Archanne sedang meneguk tehnya sambil menatap Alinne yang tengah gemetar ria. Tubuhnya nampak agak pucat. Archanne meletakkan tehnya dan menjentikkan jarinya. Seketika Alinne kaget dan matanya berbinar karena dari jari jemari Archanne keluar bola yang bercahaya biru. Ia berhenti gemetaran dan mulai sibuk melihat atraksi kecil yang ditampilkan Archanne. Archanne lalu mengarahkan bola biru itu ke Alinne dan 'menyuruh'nya untuk terbang kearah Alinne. Bola itu terbang memutari Alinne dan mengeluarkan hawa sejuk ke sekitar tubuh Alinne. Ia tertawa senang. Rasa gugup dan takutnya hilang seketika. Seorang laki-laki berdiri diantara mereka dan berdehem. Archanne terkesiap dan biru itu sirna. Alinne mengadah dan menatap pangeran kerajaan Archarian itu dengan wajah ketakutan. Pangeran itu membungkuk dan duduk di tempat duduk khususnya. "Senang bisa bertemu denganmu lagi, Charles." "Aku juga, Archanne. Bagaimana kabar ayahmu?" "Dia sedang tertekan menghadapj para kaum serigala. Mereka meminta banyak persenan dengan kelanjutan hubungan perdagangan dengan kami." "Aku paham. Ngomong-ngomong dari sini aku bisa melihat pelindung kerajaanmu dengan jelas." "Baguslah. Oh iya, aku kesini ingin meminta sesuatu padamu." "Apa saja." Pangeran memanggil wanita angkuh uang menyambut mereka berdua tadi untuk menulis daftar keinginan Archanne. "Yang pertama, aku ingin kau mengganti gaya caramu berpakaian." Wanita yang menulis itu menahan tawa. Sedangkan Charles hanya memutar bola matanya. Toh ia suka dengan bajunya yang sangat mewah dan megah itu, sangat dirinya. "Yang kedua, aku ingin menitipkan saudariku ini disini. Dan yang ketiga, tolong jaga dia baik-baik." "Bukankah dia Alinne? Putri mahkota kerajaan Deneveria?" "Ya, tapi, kerajaan itu sangat berbahaya sekarang. Kami tidak punya hubungan yang baik dengan yang memimpin. Ia sangat-sangat angkuh. Sama seperti, pegawai-pegawaimu." "Mereka sedang melindungi Platinum Crown itu 'kan? Kamu tahu hal ini Alinne?" Alinne menggelengkan kepalanya. "Kau tahu soal itu, dan mereka bukan sedang melindunginya. Maka kau harus membantunya. Jaga dia baik-baik. Kalau saja Alinne mati, pangeran itu akan punya hak sepenuhnya akan kerajaan itu. Dan kita tahu generasi asli Deneveria hanya tinggal Aline seorang. Pria itu seorang penyusup." "Baiklah. Tapi mungkin kapan-kapan ia akan tinggal bersamamu. Kamu kan tahu, ibuku adalah ratu yang angkuh. Lihat, menyambutmu saja ia tidak mau." "Ya itu bisa diatur, berarti kita sepakat?" Charles memberi tatapan terserah-kamu-sajalah, dan Alinne hanya diam seribu bahasa karena tidak mengerti apa-apa yang dikatakan kedua makhluk dihadapannya. *** Archanne berpelukan dengan Alinne dan menghadiahinya dengan sebuah kalung. "Sentuh berlian kalung ini dan pikirkan nama ayah dan ibumu. Lakukan ketika kamu siap." Alinne mengangguk. "Tenang, Alinne. Selama aku disini, kamu akan terlindungi." Charles menatap Alinne dan mengelus kepalanya. Pikiran Alinne salah ketika mengira kerajaan Archarian adalah kerajaan angkuh dengan pemimpin yang angkuh juga. *** "Nona Archanne?" Mata Archanne terbuka perlahan. Ia kaget ketika seorang pelayan wanita sedang berdiri di sebelahnya. Tepatnya, disebelah ranjangnya. "Apa yang terjadi, Melissa?" "Tadi, nona pingsan di pintu masuk. Semuanya panik, nona. Bahkan es pelindung yang nona ciptakan mencair begitu saja." "Mungkin karena terlalu lama di kerajaan bersuhu hangat." Archanne tersenyum sambil memegang dahinya yang memang agak panas. "Atau, terlalu banyak memikirkanku?" Archanne menoleh kearah sumber suara, sama dengan Melissa. Nampaknya, Melissa sedang mempersiapkan pasak untuk ditusukkan ke pangeran itu. "Yang benar saja, Willy. Bahkan wajahmu tak pernah benar-benar kuingat." Archanne melemparkan bola salju yang ia ciptakan kearah pangeran pemimpin serigala yang bernama William itu. William tertawa, ia nampaknya sangat senang ketika melihat Archanne salah tingkah menyambut kedatangannya. "Willy, berhenti menakut-nakuti dayang-dayangku. Hanya aku dan ayahku disini yang tahu jati dirimu yang sebenarnya." Archanne memukul pelan lengan William. "Habis mau bagaimana, kamu itu manis kalau sedang salah tingkah." Willy tersenyum lembut. "Terserahmulah."Archanne membuang muka. Ia berharap William tidak menyadari kalau mukanya sudah berwarna merah padam. Tapi malah, William meraih tangannya dan menariknya paksa. Ia dapat melihat pipi Archanne yang makin merah ketika ia meraih tangannya. Willian tersenyum. "Be.. Berhenti." "Aku tak bisa, kau terlalu manis." Seketika William merasakan dingin yang berasal dari tangan Archanne. Ia lalu menarik pinggang Archanne dan hendak membawanya melompat turun. William adalah pangeran pemimpin kaum serigala atau sering disebut 'Tritanian Ankester', ia punya kemampuan seperti serigala pada umumnya. Bisa melompat tinggi, kecepatan yang tidak biasa dan melolong nyaring. Masalahnya, gadis yang ia gendong sekarang takut ketinggian dan kamarnya berada di menara tertinggi istana Elliens. Archanne meringkuk kedalam badan William takut untuk melihat apa yang akan terjadi. Ia menunggui William untuk melompat, tapi masih belum ada terasa pergerakan olehnya. Ia membuka matanya. Seketika William langsung melompat. Archanne berteriak histeris dan memancing perhatian sang raja. Ia segera menoleh kejendela dan mendapati putrinya sedang di gendong sang pangeran serigala, "dasar, remaja jaman sekarang." Ia mengeleng-gelengkan kepalanya. "WILLIAM! AAA!" Teriak Archanne. Sedangkan William hanya fokus dengan kecepatannya berlari. Archanne mencengkeram badan William dan mengeluarkan hawa dingin. Di sepanjang jalur yang mereka lewati elemen es Archanne tercecer sehingga membuat jalur es. Akhirnya kecepatan William berkurang. Archanne masih mencengkeram badan William. Sampai akhirnya William berhenti. Archanne masih takut untuk membuka matanya. William bisa merasakan Archanne sangat-sangat ketakutan. Ia duduk dan memangku Archanne. Karena ia tahu, Archanne masih belum kuat berdiri. Archanne masih membenamkan wajahnya di d**a William. William pastinya tersenyum senang dengan perlakuan wanita tercantik di seluruh penjuru Tritanian ini. "Hei, hei. Kita sudah sampai tau! Mau sampai kapan kamu nempel begitu?" William protes. Archanne membuka mata dan melihat sekitarnya. Indah. Ya, itulah yang terbesit di pikirannya. Sebuah padang bunga yang bercahaya di malam milik kerajaan serigala. Kunang-kunang berterbangan kesana kemari. Archanne masih belum bergeming dari tempat dimana ia duduk, di pangkuan pangeran setengah serigala ini. William nampaknya tidak apa-apa dengan Archanne duduk di pangkuannya. Mukanya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Baru kali ini Archanne melihat langsung taman yang ia selalu favoritkan di buku sejarah Tritanian. Dan ia tidak bisa pungkiri kalau gambar di buku kalah indahnya dengan yang asli. Juga, setahu Archanne, yang hanya bisa masuk adalah para kaum serigala. Tapi entah bagaimana ia berhasil melewati gerbang perbatasan. Ia tak mau ambil pusing tentang hal itu. Ketika mengagumi keindahan ladang itu, Archanne menyadari ada beberapa pasang mata sedang mengawasi mereka berdua. Ia mendekatkan badannya kebadan William dengan cepat. William kaget dan melihat sekeliling, dan sama mendapati enam pasang mata menatap mereka, mendekat. "Hei, kalian berenam. Kalau mau ikut, datangnya jangan kayak setan." Mendengar perkataan itu, Archanne terkejut. Enam pasang mata itu semakin jelas karena berlari kearah mereka. Lalu nampak enam anak serigala, tepatnya adik-adik William yang berlarian kearah mereka dengan gembira. Karena kecepatan mereka yang tinggi mereka tepental kearah Archanne dan William dan terguling di dalam dekapan mereka berdua. Archanne menatap mereka berenam diomeli oleh William. Matanya berbinar melihat betapa imutnya para anak-anak serigala. Mata mereka besar dan telinga mereka berdiri keatas. Mereka punya wujud seluruhnya seperti serigala. Walau mereka bewujud serigala, mereka tetap imut dan manis. "Yasudah, kalian ini, bermainlah ke tempat lain, kolam lumpur kek, pohon rambat kek. Pokoknya jauh." Enam adik William langsung mengangguk dan berlarian kearah yang berbeda. William kembali duduk. Dan membuka pembicaraan. "Baik, waktunya pulang. Mereka pasti akan kembali dengan badan berlumpur dan memintamu untuk memeluk mereka. Secara paksa." "Yah, cepat sekali." Archanne kecewa. "Kalau kau mau sering-sering bersamaku datanglah ke istana. Kalau begini acaranya, sama saja seperti aku menculikmu." "Tapi ini menyenangkan." William mengangkat Archanne dan mengambil ancang-ancang. Archanne sudah bersiap-siap memeluk William erat, dan William menyadarinya. "Yah, kalau seperti ini, mending kamu menginap saja deh. Tidur bersamaku ya?" William meledek. "Heh, pangeran kutu busuk, sebaiknya kamu mandi dulu sebelum memintaku tidur bersamamu." "Kalau begitu aku mandi. Lalu tidur, kok susah?" "Sudah, sudah. Aku punya banyak tugas besok. Kembalikan aku ke habitatku, Willy." Archanne meringkuk. Kembali sang pangeran tersenyum ketika melihat gadis yang digenggamnya mulai tertidur. Ia mengetukkan kepalanya ke kepala Archanne, dan melesat pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN