"Papa sama Mama nggak usah pikirin yang aneh-aneh lagi ya? Mas Barra yang urus semuanya. Dia bilang ingin bertanggung jawab kepada Cherry dan kaluarga." Cherry berusaha meyakinkan orangtuanya, ketika mereka terus bertanya soal sertifikat tanah dan rumah yang telah kembali lagi ketangannya.
Padahal sertifikat itu telah dipakai meminjam uang dengan jumlah yang cukup banyak untuk menguliahkan Cherry selama ini.
"Tapi jumlah uang itu sangat banyak, hampir tiga ratus juta. Tidak seharusnya calon suami kamu yang membayar." Hendra masih bersikeras untuk menolak.
"Papa sendiri yang bilang, Cherry harus cari suami yang sayang keluarga dan bertanggung jawab. Sekarang Cherry sudah menemukannya. Mas Barra hanya ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar serius."
"Papa takut kamu dipandang rendah oleh keluarganya karena hal ini."
"Pa, keluarga Mas Barra sangat baik. Mereka tidak akan seperti itu." Cherry memeluk kedua orangtuanya sambil menahan airmata. Meski sedih karena harus berbohong, tapi ia lega semua masalah hutang keluarganya sudah teratasi.
Setelah ini uang gaji dari Barra akan ia gunakan untuk membelikan rumah orangtuanya di lingkungan yang lebih bagus. Juga, mengembangkan usaha kue ibunya agar lebih besar lagi. Cherry juga menggunakan gaji itu untuk membantu anak-anak di panti asuhan yang membutuhkan biaya pendidikan.
Meski ia tidak tahu apakah cara yang ia gunakan benar atau salah, setidaknya dapat membuat dirinya menjadi orang yang lebih berguna.
"Sekarang lihat penampilan Cherry. Apa cantik?" Cherry mengalihkan pembicaraan mereka.
"Itu gaun yang kamu buat sendiri?" Fatma menilik penampilan anaknya yang sangat anggun. Karena kuliah di jurusan fashion design, membuat Cherry seringkali membuat baju dan gaun-gaun sendiri agar lebih hemat. Jadi jika ia ingin mempunyai gaun dari brand mahal, Cherry tidak perlu membelinya.
"Andai kamu anak orang kaya, papa yakin, anak papa sudah menjadi designer terkenal saat ini."
"Papa, jangan bicara seperti itu. Cherry sangat senang menjadi anak dari orangtua paling baik sedunia. Makasih sudah selalu support mimpi Cherry selama ini." Ujarnya seraya memeluk kedua orangtuanya sekali lagi.
"Kamu adalah anugrah terindah yang mama punya. Kamu adalah cahaya terang untuk kegelapan. Mama yakin dimanapun kamu berada, kamu akan selalu membuat orang disekitarmu bahagia." Fatma mencium kening putrinya.
Setelah mendengar suara mobil Barra datang di halaman rumah mereka, fokus ketiganya langsung teralihkan.
"Sudah jangan menangis, nanti anak mama jelek."
"Iya, sana pergi." Hendra ikut tersenyum.
"Cherry pamit!"
Cherry langsung mencium tangan kedua orangtuanya dan berpamitan. Barra juga turut bersalaman sebentar untuk menyapa mertuanya, sebelum membawa anak perempuannya pergi. Mereka terlihat seperti pasangan nyata yang sedang berbahagia.
Fatma dan Hendra sangat terharu melihat putrinya di perlakukan seperti ratu oleh calon suaminya. Mereka hanya berharap semoga kedepannya, Cherry selalu bahagia seperti saat ini. Rumah tangga mereka langgeng, dan tanpa kekurangan suatu apapun.
****
Barra menatap wanita yang tengah memakai gaun dengan design yang cukup unik, sexy, namun tidak berlebihan. Barra tidak tau kenapa dimatanya, si lintah darat itu sangat cantik saat memakai pakaian apapun.
"Tetap bersamaku, jangan pergi selangkah pun. Ada banyak rekan mama dan papa. Kita harus menjaga sikap. Mata-mata mereka sangat banyak disini."
"Ya." Jawab Cherry santai, lalu memeluk lengan calon suaminya dengan mesra.
Keduanya pun memasuki ballroom sebuah pernikahan dengan langkah seirama. Mereka benar-benar seperti raja dan ratu yang sangat serasi.
Semua mata memandang ke arah mereka dengan terkagum-kagum. Keduanya tak kalah anggun dan berwibawa dari orangtuanya, yang selalu menjadi pusat perhatian. Terlihat ederhana, tapi sangat berkelas.
Cherry merinding ketika melihat betapa mewahnya ruangan yang ia pijaki. Sebagai lulusan designer ia bisa menilai seberapa mahal pakaian yang mereka kenakan. Sungguh! Barra dan semua kenalannya bukan orang biasa. Semuanya konglomerat.
"Yang sedang menikah itu anak dari pemilik produk sepatu paling berkelas di Asia." Bisik Barra memberitahu.
Cherry memeluk Barra erat sambil angguk-angguk.
"Yang disana, pria jelek itu, dia yang namanya Vincent. Anak dari musuh bebuyutan dan pesaing berat perusahaan kita. Kamu tau jika brand pakaian kita selalu mengeluarkan design yang hampir sama bukan? Sangat menyebalkan. Mereka seperti menjiplak, tapi pintar memodifikasi."
Cherry masih diam sambil mengamati wajah songong pria bernama Vincent itu. Wajah pria itu sepertinya sangat licik. Cherry juga tidak menyukainya.
"Lihatlah model jas dan kemejanya. Sangat sama denganmu." Cherry mencibirnya.
"Benar kan kataku? Mereka bahkan ikut-ikutan membuka brand kosmetik dan berlian sama seperti kami, selain brand pakaian. Bisanya hanya menjiplak."
"Kenapa kamu tidak mempolisikannya?"
"Designnya tidak sama persis. Sudah aku bilang mereka pintar memodifikasi, supaya tak terlihat menjiplak. Tapi orang yang pintar pasti bisa memahaminya."
Sebelum melanjutkan obrolan, tiba-tiba seseorang menyapa Barra dan mengajaknya berbicara.
"Hei Barra, apa kabar?"
"Fine, kenalin ini calon istriku." Barra mengenalkan Cherry seolah mereka benar-benar pasangan sungguhan. Aktingnya sangat natural!
"Astaga cantik sekali! Aku Brian, nice to meet you." Ujarnya sambil menjabat Cherry yang hanya tersenyum manis.
Usai mengenalkan Cherry dan berbasa-basi, keduanya membahas bisnis dan saham yang tak Cherry mengerti.
Sambil menunggu pria itu bicara, Cherry berjalan-jalan untuk melihat dekorasi serta jalannya acara pernikahan yang dipenuhi dengan kemewahan tersebut. Seketika Cherry jadi berpikir, apa pernikahannya dan Barra juga akan semewah ini?
Selama puluhan tahun hidup, Cherry tidak berpikir jika ia bisa masuk kedalam lingkaran para konglomerat. Semuanya bagaikan mimpi untuknya. Ia seperti upik abu yang diangkat menjadi princess hanya dalam hitungan hari.
"Hai!" Suara seorang wanita membuat Cherry tersentak. Segerombolan wanita muda, termasuk Keysha, tiba-tiba mendatanginya dengan tatapan merendahkan.
"Jadi ini calon istri Barra Prawira? Pemilik perusahaan fashion, kosmetik, dan berlian ternama di Asia? Astaga aku tidak percaya." Seorang wanita mencibir.
"Lihatlah pakaiannya, siapa designernya? Apa kamu pernah melihatnya?" Seorang wanita lain menyahuti.
"Bagus sih, tapi aku yakin murahan." Segerombolan wanita itu tertawa.
"Barra sangat bodoh karena meninggalkan model cantik sepertimu demi wanita seperti ini. Bahkan dia tidak memakai berlian atau apapun. Apa kabar bahwa dia miskin itu benar?"
Cherry tertawa geli setelah mendengar cibiran mereka. Jadi mereka mendatanginya, hanya untuk membuat review atas penampilannya?
"Hei, kalian bicara dengan siapa? Kenapa tidak langsung saja padaku? Menatap wajahku dengan jelas? Katakan saja apa yang ingin kalian katakan." Cherry mengambil segelas minuman yang ada di meja, lalu menatap mereka dengan santai satu per satu.
Mereka pikir Cherry akan menangis di pojokan, insecure, takut, sedih, setelah mendengar cibirannya? Cuih! Persetan! Memang Cherry tidak punya gaun mahal. Tapi gaun karyanya, jauh lebih mahal dari brand ternama sekalipun.
"Maaf ya, tapi kenyataannya kamu terlihat sangat menyedihkan malam ini. Lihatlah penampilanmu, seperti kutu yang ingin segera disingkirkan." Keysha mencibirnya tajam.
"Ouhhh... begitu? Jadi kamu pikir dengan gaun yang kamu kenakan, kamu sudah terlihat wah begitu?"
Cherry memegang gaun-gaun mereka dengan ujung jemarinya.
"Jika suamiku pemilik brand pakain, berlian, dan kosmetik ternama, lalu untuk apalagi aku membuktikan bahwa aku punya pakaian seperti ini?" Cherry mengelap jemarinya, setelah puas memegang gaun-gaun mereka.
"Jika semua orang tau siapa Barra, maka dia juga akan tau siapa nyonya Barra, tanpa aku harus bersikap norak." Cherry tertawa lagi sambil meminum minuman pahit yang ada ditangannya. Meski aslinya ia tak tahan, Cherry tetap meminumnya dengan santai.
"Dan kau bilang aku kutu? Ya setidaknya kutu memakan darah, masih sedikit berkelas. Dari pada lalat pemakan sampah dan kotoran seperti kalian."
"Apa katamu?!" Keysha membentaknya.
"Sebelum menghina orang, baiknya lihat dulu diri kalian. Jika dompet dan otak kalian belum cukup untuk menghina orang, jangan lakukan. Karena itu sama saja, kalian menghina diri kalian sendiri."
"Kamu memang wanita miskin tidak tahu diri!" Keysha mulai meninggikan nada suaranya.
"Kamu tidak bertanya kepada Barra, berapa uang bulananku? Bahkan untuk membeli sepuluh gaun yang kalian kenakan, tidak ada apa-apanya."
"Kamu bangga menjadi parasit?"
"Parasit? Apa kau lupa jika aku akan menjadi Nyonya Barra Parawira? Huh kalian lucu sekali. Dia akan menjadi suamiku. Dan itu memang kewajibannya untuk memberi nafkah."
"Tidak tahu malu! Wanita b******k!" Keysha yang tak bisa mengontrol emosi, mulai sedikit berteriak.
"Lihatlah cara bicaramu sekarang, sangat tidak berkelas. Jadilah model yang cerdas, otaknya berisi, bukan model yang hanya bisa pamer badan."
Plakkk...!!!
Suara tamparan yang begitu keras membuat semua orang menoleh. Melihat Cherry terjatuh dilantai dengan darah di hidungnya, membuat Barra langsung berlarian menghampirinya. Barra menatap Keysha tajam, lalu memeluk Cherry dan menahan pendarahan di hidungnya dengan sapu tangan.
"Kamu nggak apa?" Barra berbisik kepada wanita yang ada di pelukannya.
"Jika pacar kamu tidak bisa profesional, lebih baik batalkan saja."
"Aku akan memberitahunya."
"Kepalaku pusing karena dia! Beritahu wanita itu untuk menjaga sikap!" Cherry mendorong Barra dengan kencang, lalu berlari meninggalkan acara dengan langkah sempoyongan.
Ketika Barra melihat gelas wine yang Cherry tinggalkan, seketika membuat dirinya sadar jika wanita itu sedang tidak sadarkan diri, alias mabuk.
"Apa-apaan ini?"
"Barra... dia..." Keysha menunduk gemetar.
"Keterlaluan! Jangan pernah lagi sentuh calon istriku!" Sentak Barra tajam dan dingin, lalu berlari mengejar Cherry dengan langkah cepat. Ia terpaksa memarahi Keysha karena ada banyak mata-mata ibunya disana. Jika ia tidak melakukan pembelaan kepada Cherry, semua orang pasti akan bergosib yang tidak-tidak dan membuat hubungan bohongannya terbongkar.
Beberapa tamu undangan langsung menatap sinis ke arah Keysha setelah teriakan Barra yang penuh amarah. Mereka menganggap Keysha tidak punya malu karena menganggu calon istri dari mantan pacarnya.
"Awas kamu Cherry!" Ancamnya dalam hati.
****