Menggenggam uang di tangan, aku pun memalingkan kepalaku untuk kembali melangkah, tetapi kuhentikan saat diriku melihat suatu darah.
“Darah apa itu?” tanyaku dengan tangan gemetarku yang menggenggam uang mengarah untuk menyentuh keningnya.
“Luka kening ...” sahut Sigit menatapku dengan alis yang berkerut. “Apakah aku memintamu untuk menyentuhku?” tanyanya padaku membuat Zeta menghembuskan nafasnya.
Sebungkus es mochi dengan kemasan ungu pun menampar pipinya. “Sudahlah, tidak ada yang ingin memacarimu manusia kulkas, aku tidak ingin perang dingin bersama pemilik hati dingin sepertimu, makanlah es mochi itu dan rasakan kedinginan dirimu sendiri!” ucap Zeta dengan kedua lengan dan jari telunjuk kanan menunjuk Sigit.
“Maaf ... maafkan aku,” gumam Zeta yang berjalan dengan pembatas besi melewati bangku-bangku untuk ke keluar kelas, aku pun mengikutinya.
“Kau tahu, manusia kutub sepertinya pasti memiliki darah dingin yang mengalir di dirinya,” gumam Zeta yang berdiri di belakangku dengan pembatas besinya, menghalangi pembeli lainnya.
“Maksudmu?” tanyaku kebingungan sembari mencari-cari sesuatu yang aku ingin beli. Melirik ke kanan lalu ke kiri sembari menunjuk satu persatu barang yang ada di meja koperasi.
“Bukankah kau mencari minyak goreng?” tanya Zeta yang menyadarkanku, segera saja aku memanggil ibu koperasi itu, “Bu, minyak goreng 1 dan obat luka 1,” kataku kisi-kisi dengan jari telunjuk yang berdiri ke atas.
“Ini melelahkan ... maaf, permisi,” gumam Zeta sedari tadi hingga diriku dan dirinya tiba di bangku halaman sekolah.
“Kau tahu, ini melelahkan! Melihat Ika dan Bagas mewakili sekolah, menyiapkan persiapan untuk lomba, tetapi mereka malah main basket ... itu menyenangkan sekali!” gumam Zeta dengan pergelangan tangannya yang teroles minyak goreng.
“Iya aku gembira sekaligus iri,” sahutku melihat Ika dan Bagas dari kejauhan yang tersenyum sembari berebutan bola basket lalu dilemparkanlah bola itu memasuki ringnya oleh Bagas.
“Kau seharusnya gembira saja bukan iri,” sahut Zeta yang kembali suara tersumbat terdengar berasal dari hidungnya. Aku pun teringat akan selembar tisu yang selalu kubawa di kantongku, dengan cepat aku pun mengeluarkan tisu itu lalu mengelapkan sekitar bibir dan hidungnya.
“Lihatlah! Mereka pasangan sejati yang tak kenal lelah, aku iri pada Ika,” ucap Zeta tercenung menatap Ika yang melambai-lambaikan tangan pada dirinya. Ika juga melambai-lambaikan tangan padaku. Namun, sesaat saja dikarenakan seseorang dengan seragam kusutnya berdiri di hadapanku.
“Kau! oleskanlah obat luka itu pada jidatnya. Karena kau ahli dalam mengoles, bila perlu tuang semua cairan obat itu ke dalam bibirnya! Biar digelek, biar dia mampus!” ucap Zeta lalu dengan mudahnya ia mengeluarkan kedua tangannya dari lubang-lubang pembatas besi.
Diberikanlah sebungkus es mochi itu padaku dan dengan cepat aku pun meraihnya. “Terima kasih esnya, Zeta” ucap Sigit kepada Zeta yang sedang berdiri dengan tatapan memanas.
“Aku tidak butuh terima kasihmu. Terima kasihlah pada ibu pedagang di kantin karena telah mengizinkanmu berhutang, besok aku akan mengatakan padanya!” sahut Zeta yang langsung membuka bungkus mochi dan melangkah masuk ke kelas.
Bungkus mochi yang belum terbuka pun aku buka, mengeluarkan setengah isiannya hingga embun dingin menghembus ke hidungku. Setengah isian mochi berasa karamel itu pun aku kunyah dingin-dingin.
“Kau dilihati Bagas,” ucap Sigit yang duduk di sampingku, langsung saja kubalas dengan cepat, “Tidak, Ika juga melihatku,” sahutku dengan dingin yang memenuhi mulut lalu dirinya pun memandangiku.
“Benarkah ..?” tanyanya dengan tangan yang mengarah ke jidatnya. “Kau disukai Bagas,” ucapnya kembali dengan nada tinggi di akhir.
“Tidak, Ika lebih menyukaiku,” sahutku dengan cepat kembali sembari mendekatkan kedua tangan yang memegang es mochi ke lutut.
“Kau tidak pernah menyukai seseorang sama seperti Zeta,” ucapnya dengan nada tinggi kembali seperti bertanya lalu dengan matanya yang berkilau menatap mataku dan tangannya yang menahan rambut yang menutupi keningnya. Tersadar akan ucapannya yang mengetahui rahasiaku, aku pun dibuat terdiam menatapnya.
“Kau iri pada Ika?” tanyanya yang sangat jelas membuat kedua tanganku bergetar memegang bungkus es mochi yang mengeluarkan embun dinginnya.
“Dari mana kau tahu?” tanyaku dengan lipatan mata yang begetar menatap matanya yang melirik obat luka di dekat pahaku. Dirinya kembali merapikan rambut lalu menjepit rambut lepek itu diatas kepalanya hingga memperlihatkan keningnya yang luka sembari menaik-naikkan alis kirinya.
Menatapnya berulang kali sembari mengejapkan mata, aku pun menaruh mochiku yang telah terbungkus kembali di atas bangku samping kiriku. Mengambil obat luka itu lalu membuka tutupnya sembari kembali menatap kedua matanya.
“Aku mendengarmu ...,” ucapnya yang menghentikan jari-jari getarku memutar penutup obat luka. “Di kelas ... lanjutkan,” sambungnya kembali sembari mendongakkan kepalanya seakan menunjuk tutup obat luka yang belum terbuka.
Membuka tutup itu lalu menuangkannya pada jari kelingking kiriku yang gemetar. Aku pun mengoleskan pada luka yang ada di keningnya. Darah segar yang menempel di jariku, ternyata memiliki warna yang berbeda dari warna obat luka.
“Apa yang kau lihat ... apakah kau bisa membedakan darah ...?” tanyanya lalu ia sambung kembali, “Aku memiliki rencana, tetapi ini rahasia!”
“Ana!” panggil Zeta dari belakang membuat diriku menoleh padanya. Terlihat dua buah tas dalam rangkulannya membuat dirinya membungkuk-bungkukkan badan seolah-olah keberatan akan tas.
“Aku tidak bisa membiarkanmu ikut gila, aku tidak bisa membiarkanmu lebih lama lagi bersamanya,” celetuknya berdiri di hadapanku dan Sigit.
Aku pun menangkap tasku yang dilemparkannya dengan tangan kananku yang memegang obat luka. Langsung saja kuselingkan selempang tas pada salah satu pundakku sambil bertanya pada Zeta, “Apakah sudah boleh pulang?"
“Sudah,” sahut Zeta yang menarik dua tanganku lalu menabrak guru olahraga yang berada di belakang Zeta, rasanya sesuatu terjatuh dan tertinggal di belakangku.
“Sampai jumpa, Pak!” pamit Zeta yang kembali menarik tangan kiriku, berjalan memimpin diriku yang selalu mengikuti arahnya, meninggalkan murid dan guru yang sedang memiliki percakapan.
“Sigit, nanti berikan absensi pada Ika ya!” pinta guru olahraga yang masih mengenakan celana panjang hitamnya.
“Baik, Paman,” Aku pun memperhatikan guru olahraga itu lalu perhatianku terjalan sejalan lengan panjang hitamnya dan terjatuh pada kening yang berdarah milik teman sebangkuku, yaitu Sigit.