“Ana, terima kasih. Selamat tinggal!” ucap Ika tersimpul manis sembari melambai-lambaikan tangan kirinya padaku beriringan dengan diriku yang juga melambaikan tangan padanya saat memasuki kelas.
Sebelum pergi ke bangkuku, aku lebih memilih untuk menghampiri bangku Zeta terlebih dahulu. Menatap dirinya membuka tas dengan rusuh hingga melepaskan pengait hitam itu. Dilemparkanlah saja pengait itu sembarangan hingga mengenai kepala ibu guru yang sedang menunduk sembari merapikan taplak meja.
Mata Zeta pun kembali membesar. Namun, seketika matanya menyipit kembali dan dirinya kembali membuka tasnya. Mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna putih.
“Apakah aku terlihat seperti cacing kepanasan?” tanya Zeta kepadaku dengan alisnya yang naik sebelah.
“Sejujurnya ... kau lebih mirip manusia daripada cacing, Zet,” sahutku lebih panjang kali ini sembari mencium aroma ruangan kelas yang berasal dari pengharum ruangan jeruk.
Matanya yang berkedip-kedip menatapku tanpa sepatah kata. Ia pun menarik garis bibirnya ke kanan sembari memalingkan wajahnya dan bertanya padaku, “Tidakkah kau iri pada Ika?”
“Dia laksmi, bestari, dan paling baik, ia tinggal sendiri, tidakkah kau iri padanya, Ana?”
“Iya, aku iri padanya ..,” sahutku terhenti sembari menelan ludah dan menatap jendela, melihat permainan basket di luar sana. “Aku iri padanya saat ia melompat tinggi untukku, memasukkan bola pada ring untukku, lalu menjadi juara putri basket bukan untuk diriku, atau bukan untukmu, atau pun bukan untuk keluarga yang tak dimilikinya, itu pasti menyenangkan.”
“Hei ...,” pekiknya menghantam kepalaku bersamaan dengan bel yang berdentang. “Aku bercanda, kau ... setiap kali kau berbicara ... selalu saja membuat diriku yang bermental baja meneteskan umbel hijau muda.” Dirinya menunduk, mengelap hidungnya yang penuh akan cairan pada roknya.
Kembali, dirinya menaik-naikkan pundak sembari menarik-narik cairan kental yang terus bercucuran dari hidungnya. Suara hidungnya tersumbatnya memenuhi kelas membuat diriku tercenung sembari mengerakkan bola mata dari kanan ke kiri, aku pun berjalan ke bangkuku.
“Semuanya ..,” panggil ibu guru di depan kelas sembari memegang spidol yang menempel di papan. “Sekarang latihan menjelang ujian ya, tolong ditulis soalnya terlebih dahulu,” tutup guru berambut hitam tipis itu yang langsung membalikkan badannya, melanjutkan tulisannya di papan.
Awalnya, aku yang sedang menunduk menatap seragam lenceng putih seorang siswa di depanku. Namun, tiba-tiba saja perhatianku teralihkan oleh Zeta. Terlihat dari bangkuku, dirinya yang mendadak berdiri seakan tersambar petir berjalan terhuyung-huyung mendekati bangkuku.
“Kenapa kau meninggalkanku?” tanya Zeta masih dengan cairan yang masih menggantung di hidungnya.
Ia pun langsung mengambil tanganku dan langsung menyemprotkan cairan wewangian harum jempiring dari parfum botol kaca berkilap dengan cairan ungu berkilau di dalamnya.
Dirinya pun Mengusap-usap kedua tanganku agar cairan parfum yang tidak lengket itu meresap ke telapak tanganku. Setelah itu, dirinya pun menampilkan kedua taring dengan melipat bibir bagian bawah seakan dirinya ingin menyedot darah dengan lirikan tajamnya pada seseorang di samping kananku. Aku pun hanya bisa menepuk-nepuk kedua tangan lalu memejamkan mata sembari menghirup wewangian yang berasal dari tapak tanganku, melupakan bau yang sama, kembali tercium dari dekat bangkuku, tampaknya seperti bau bangkai.
Bunyi rusuh pun terdengar tergempar di samping kiriku berbarengan dengan diriku yang terdorong ke kanan hingga menubruk lengan siswa yang duduk di sampingku.
“Maafkan aku,” pintaku yang segera menjauh dari siswa berambut lepek itu lantas saja aku menunduk ke arah ujung rok kiriku yang tertarik-tarik.
“Apakah dia sudah pergi,” kisi-kisi Zeta yang sedang berjongkok sembari mengusap-usap lututnya yang memerah. Wajahnya pun terangkat dengan bibirnya yang seakan menunjuk-nunjuk guru itu dari bawah.
Segera saja aku mengangguk sesaat guru itu berdiri menghadapku, tetapi melamun ke jendela. Melihat isyaratku, Zeta pun langsung mengangguk sembari mengembungkan pipinya dengan senyum lebar lalu ia pun berdiri. Namun, mendadak lagi dirinya melotot dan langsung menjatuhkan dirinya ke lantai.
Tangan kiri Zeta menutup mulutnya sendiri yang hampir mengeluarkan sepatah teriakan sedangkan tangan kanannya yang menggenggam parfum digunakan untuk menyeret dirinya sendiri kembali ke bangkunya.
Kekeh keluar dari mulutku bersamaan dengan mataku menangkap mata ibu guru yang beranjak ke kursinya. Tangan kiriku pun mengarah dengan sendirinya, bergetar ke arah mulutku untuk mencubit bibir atas dan bawahku, membungkam dari kebahagiaannya.
Mulai melirik soal dan mencorat-coret kertas putih yang baru saja kurobek dengan tangan kananku. Semakin garis hitam itu melebar dan memanjang, kembali lagi jari kelingking kananku semakin gemetaran melihat soal yang bertanya padaku tentang proses pembakaran.
Mencorat-coret dengan menyusun kalimat secara sistematis, tetapi proses pembakaran itu membingungkanku dan di kertasku hanya tertulis ‘barang mudah terbakar dan oksidan/oksidator'
Pulpen pun terlepas dari genggaman tanganku lantas saja kusembunyikan tanganku yang gemetar di kolong meja. Menunduk sembari mengusap-usapkan keringat yang terus bercucuran di jidat, aku pun langsung memasukkan tangan kiriku juga ke dalam kolong meja. Menyembunyikan genggaman tangan yang gemetar di balik kolong meja.
10 menit kemudian, saat diriku masih menatap jarum panjang jam yang terjatuh pada angka 10 pas. Tangan yang sedingin telapak tanganku menggenggam kedua tanganku yang tergenggam. Menunduk dengan pelan, melihat tangan yang memiliki sedikit bulu sepanjang tangan hingga sampai ke seragam lengannya, aku pun mencari sepasang mata pemilik tangan itu.
Tangannya pun melepaskan tanganku. Bergerak dari kolong mejaku melewati atas rokku lalu telapak tangannya terbuka lebar melayang di udara bak meminta sesuatu. Ia pun mengalihkan matanya ke papan dengan alis kirinya yang naik.
Membungkukkan badanku lalu mendekatkan dadaku pada sisi depan meja untuk memperluas genggaman tangan di balik kolong meja hingga meletakkan daguku di atas meja, aku pun mengangkat bahu. Seketika saja nafas yang terembus ditangkap oleh kupingku.
Memejamkan mata, mulai mengikuti perintah Zeta di pingggir lapangan basket tadi pagi, dimana ia menyuruh diriku untuk mendinginkan kepala, suara berisik pun membukakan mata yang terpejam dan menyadarkan diriku, suara itu berasal dari kolong meja, menyadariku bahwa sekepal kertas telah tergenggam di tengah genggaman tanganku.
Segera saja, aku pun merobek kembali kertas putih dari buku tebal bergaris, lalu menuliskan soal beserta dengan jawaban lengkapnya yang kusalin dari sekepal kertas lecek dan terbentang di atas mejaku, aku menulis semua jawabannya di kertas putih itu. Berdiri saat akan mengumpulkan lembar jawaban, aku melihat siswa sebangku itu menatap diriku, lantas saja kuberi dirinya kertas yang berisi coretanku dengan perantara kolong meja.