“Lo gimana sih, El? Masa ngatur jadwal gitu aja nggak bisa?” Elysa menghela nafas pelannya ketika mendengar suara lantang menggelegar Adrian terdengar sampai ke sekeliling ruangan. “Kan udah gue bilang, jangan ada meeting sama klien sebelum makan siang! Apa perintah gue kurang jelas?” hardik pria itu dengan keras. Elysa mengangguk pelan. “Jelas, Bang,” ujarnya. “Tapi masalahnya klien itu minta sebelum jam makan siang. Soalnya setelah makan siang dia harus terbang lagi ke Bali,” lanjut wanita itu dengan nada yang rendah, berusaha tidak menanggapi Adrian dengan emosi. Sejak pagi Adrian terus marah pada semua hal. Ada saja hal yang membuat pria itu marah-marah. Bukan hanya sejak pagi sebelumnya. Karena sejak semalam pun pria itu sudah mendiamkan Elysa. Dia juga tidak menyentuhnya sama s

