“Kalipa arah jam Sembilan!” “Kau tidak lihat aku juga sedang sibuk disini, Cantik!” Aku memicing kesal lantaran pria itu malah dengan beraninya menolak intruksi dariku. Aku lantas menunduk di balik tembok untuk menghindari serbuan peluru yang datang kearahku. Lumayan membabi buta sebagai sambutan meriah atas kedatangan kami. “Aku tahu kita sibuk, tapi setidaknya lindungi aku, gondrong! Bukankah itu tugasmu? Aku sedang tidak ingin memulai perdebatan apapun.” Suara granat yang meledak membuat telingaku terkena efeknya. Kebisingan yang sukses membuat percakapan antara aku dan Keyva terputus seketika. Kami berdua harus kembali menunduk, sebisa mungkin berupaya untuk dapat menghindari hujaman serpihan kayu juga debu (partikel kecil yang cukup menyusahkan sebab bisa memberikan dampak kekalaha

