"Pulang sekarang." "Uh ..." Gio melenguh tak jelas. Ia kembali memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas sofa. Walaupun tidur di sofa akan membuat tubuhnya pegal dan kesakitan. "Pulang," ucap Marvel dengan suara rendah. Gio bangkit dari berbaringnya. Jika mendengar suara sang kakak sudah aneh dan rendah seperti itu, pasti Marvel tengah menahan emosinya dan akan meledak pada waktunya seperti bom. Bom simalakama baginya. Gio perlahan berdiri, setelah Marvel mundur dua langkah dari hadapannya tanpa mengalihkan atensinya pada Gio yang terlihat muka bantalnya. Gio menatap sekilas ke arah Marvel sebelum akhirnya ia benar-benar lergi dari ruangannya. Marvel menggelengkan kepala melihat sang adiknya yang berpenampilan seperti itu. Gio sama sekali tak memperhatikan penam

