"Terima kasih atas semuanya," suara Rinila penuh haru
Gaung terdiam sesaat sebelum ia menjawab,
"Saya, senang dapat membantu kamu."
Rinila tersenyum, setengah tertunduk lalu mengucap salam. Gaung menjawab pelan, Rinila membuka pintu dan turun. Saat ia hendak menutup pintu, Gaung memanggilnya
"Rinila."
Rinila melongo 'kan kepala kedalam mobil yang kaca jendelanya telah diturun 'kan. "Ya, Dok?"
"Ehm. Ah, tidak jadi."
Rinila pun pamit sambil membawa tanya dalam hati untuk perkataan Dokter Gaung yang menggantung.
Di dalam mobil, Gaung menelungkup ' kan wajahnya ke kemudi.
*
*
*
Huuuf ... What a day!
Rinila tiba di rumah lewat jam sembilan malam. Ia menuju kamarnya ketika tak melihat seorang pun di ruang keluarga, ia menghempas 'kan tubuhnya yang masih berbalut pakaian putih-putih. Ia memejam 'kan mata sejenak.
Teringat kesibukan hari ini yang menguras tenaga dan air matanya, untung semua berakhir dengan bahagia, semua berkat bantuan Dokter Gaung.
Mau tak mau bayangan sosok Dokter Gaung tiba-tiba muncul dipikaran Rinila. Tubuh yang tinggi tegap, sekitar 185 cm. Rambut hitamnya terpangkas rapih, hidungnya mancung, kulitnya juga bersih, matanya yang indah, dibaluti kacamatanya setengah frame. Sangat pas di wajahnya, sebenarnya matanya selalu tersenyum. Bibirnya merah menawan tapi sayang bibir itu tertutup rapat, terlebih-lebih saat di klinik. Padahal saat tersenyum ia tampak berkarisma dan terlihat sangat macho. Ups. Rinila menutup mulutnya sendiri, ia jadi malu bagaimana bisa mengingat Dokter Gaung dengan sedetail itu?
Tak heran kalau banyak mahasiswa perempuan hatinya meleleh saat melihat Dokter Gaung. Mereka bilang Dokter Gaung mirip artis korea. Namun, Rinila tak bisa membandingkan Dokter Gaung dengan artis tersebut, karena ia sendiri tidak terlalu suka nonton drama korea.
Rinila mulai membanding 'kan Dokter Gaung dengan sih berengsek Radit, untung selama tujuh tahun bersama, Rinila tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak pantas. Tidur dengan Radit, misalnya. Cih, no way! Rinila Paramitha perempuan modern yang tidak keberatan di sebut kolot oleh orang lain hanya karena ia tak melakukan seks sebelum menikah. Whatever, people say, nothing loose.
Untungnya lagi saat saat bersama Radit, ia sepakat dengannya soal hal ini. Hanya satu hal yang membuat Rinila kesal sampai sekarang. Radit tak bisa bersikap tegas. Cenderung plin-plan dan dengan tega meninggal 'kan Rinila untuk menikahi gadis pilihan orang tuanya, sikap plin-plannya itu yang membuat hubungan mereka kandas. Rinila baru menyadari, ternyata Radit bukan pilihan yang tepat.
Lalu mengapa aku harus menjalin hubungan tujuh tahun dengannya dan menjadi kekasihnya? Hahaha. Rinila mengeleng-gelengkan kepalanya. Syukurlah sekalipun berhubungan lama kami tidak melakukan hubungan yang melanggar norma-norma agama dan mungkin kegigihan ku mempertahan 'kan diri hingga ia mencari ataupun menyetujui perjodohan itu karena mungkin saja wanita itu lebih berani melakukan segala hal.
Rinila bukanlah termasuk tipe perempuan yang mudah di dekati lelaki atau mendekati lelaki meski ia jatuh cinta setengah mati pada lelaki itu. Pada Ina sahabatnya pun, butuh proses yang lumayan lama sebelum akhirnya bisa saling terbuka. Mungkin karena kegigihan Radit mendekatinya saat itu, yang membuat hati Rinila akhirnya luluh dan jatuh cinta padanya, keputusan yang sangat di sesali Rinila sekarang. Tujuh tahun menjadi sia-sia ....
Ah. Bodoh amat, sampah sudah di buang pada tempatnya.
Rinila pun kembali membanding 'kan Dokter Gaung dengan Bias. Bias sosok pria aneh sempat menghiasi hari-harinya saat ia terluka karena Radit, pria tampan yang satu itu membuatnya dapat melupakan berengsek Radit saat bersama. Bias dan Dokter Gaung, keduanya sama-sama tampan yang membedakan sikap Bias yang terbuka juga mudah senyum, sedangkan Dokter Gaung tampak cuek dan dingin, senyumpun sangat sulit terlihat.
Ya, sudahlah. Memikirkan mereka semua yang juga belum tentu memikirkan ku.
Rinila terbahak, lalu bangkit dari tempat tidur dan mulai membersihkan diri. Bayangan dalam cermin memantul 'kan wajah Rinila yang tersenyum. Ia merasa sangat lega
satu tugas terselesai 'kan. Tinggal mempersiap 'kan diri untuk ujian. Setelah itu sidang dan, yes wisudah! Malam ini Rinila tidur dengan terlelap setelah membayang 'kan sosok Dokter Gaung.
*
*
*
Berbanding terbalik dengan Rinila. Dokter Gaung tak bisa memejam 'kan mata sedikit pun. Dikamarnya yang redup, ia menyandar 'kan tubuhnya ke tempat tidur, kejadian siang tadi bermain-main di benaknya. Tidak ada penyesalan menolong Rinila, ia hanya menyesal tak bisa memanfaat 'kan waktu itu untuk menyata 'kan perasaannya pada Rinila.
Apa yang akan terjadi andai ia mengata 'kan bahwa ia sungguh-sungguh menyukai Rinila, bah 'kan ingin sekali menikahinya.
Jangan-jangan, Rinila malah takut dan menganggapnya tak waras. Tenang, semua ada waktu nya, Gaung, pikirnya menghibur diri sendiri. Ia larut dalam pikirannya yang mengagumi sosok Rinila. Wanita imut yang selalu terbayang dalam pikirannya, senyuman yang terlihat dari bibirnya, membuat Rinila semakin mempesona dan terlihat imut.
Seandainya dia bisa menjadi milik ku, aku akan menjadi seseorang yang paling bahagia dalam kehidupan ini.
Dokter Gaung meraih Hp nya di atas kasur, ia membuka galery melihat foto-toto Rinila yang ia ambil tanpa sepengetahuan Rinila, ada senyum di sudut bibirnya.
Maukah kau menjadi milik ku seutuhnya? Maukah kau menjadi ibu dari anak-anak ku kelak? Aku takut jika mengutara 'kan niat ku ingin menikahi mu, kau malah menjauh dari ku. Entahlah ku biar 'kan Tuhan yang mengatur segalanya, toh jikapun Rinila adalah jodoh ku cepat atau lambat pasti disatukan juga.
Saat ini cukup untuk ku mengagumi mu dalam diam.
*
*
*
Rinila Paramitha melaju 'kan mobil-nya dengan tenang. Hari ini tak perlu buru-buru ke klinik. Seluruh pekerjaannya sudah di kerja 'kan. Ia hanya ingin memasti 'kan jadwal ujian akhir.
Semoga saja jadwalnya sudah keluar, harap Rinila.
Klinik sudah mulai ramai. Rinila tiba disana jam sepuluh pagi. Rinila segera menuju ruang Akademik untuk mencari pengumuman. Rinila tak menyadari Dokter Gaung telah berdiri di sampingnya.
Dokter Gaung memang baru datang, ia berlari-lari kecil agar cepat sampai ke ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok semampai yang kerap mengganggu pikirannya.
Mimpi apa aku semalam bisa bertemu Rinila di sini?
Gaung berjalan pelan, tak ingin mengaget 'kan Rinila, lalu diam-diam berdiri di sampingnya. Hidungnya bisa menghirup wangi rambut Rinila yang dibiar 'kan tergerai.
Sesaat Gaung melayang sebelum sadar dirinya tengah di kantor. Matanya ikut mencari-cari pengumuman yang tengah di baca Rinila.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
Dokter Gaung menahan napas ketika melihat Rinila masuk. Rinilah cantik sekali pagi ini. Penampilannya sederhana membuat Rinila tampak menjadi lebih anggun.
Gaung berusaha menunduk 'kan wajah, tetapi sulit. Ia pasti tak akan memaling 'kan pandangannya dari Rinila andai tak mendengar dehem dari dosen yang menjadi rekan penguji saat itu.
****