Hari ini mereka bertiga berjalan-jalan ke daerah pegunungan. Disana dingin suhu bisa mencapai 5 derajat Celcius di pagi hari. Rinila sudah membekali diri dengan berlapis-lapis pakaian.
"Kalian tidak pakai sweter atau jaket?" Rinila heran melihat Asti dan Bias yang hanya mengenakan selapis baju lengan panjang.
"No, dear," sahut Asti. "Kami sudah biasa dengan winter, write?"
Nyatanya, ketika sampai di puncak pegunungan, Asti mengerut kedinginan. la membeli topikupluk dan sarung tangan. Bias mengoloknya.
"Aaah, kuda!" seru Asti tiba-tiba.
'Kenapa dengan kuda?" tanya Rinila lugu.
"Aku tak menyangka ada kuda di sini," jelas Asti. "Aku senang sekali berkuda."
Rinila membulatkan bibir.
"Come on, Rinila!" ajak Asti. "Naik kuda, yuk!"
"Aku ..., aku belum pernah naik kuda," bisik Rinila malu-malu pada Asti.
"So, you must try it, lady!" dorong Asti. "It's fun!"
"Bunny, gadis manja mana bisa menunggang kuda?"
sindir sebuah suara.
Rinila memelotot mata kepada Bias. Ia yakin dirinya yang disindir lelaki itu. Apa sih maksudnya menyindirku? Protes Rinila dalam hati. Bias pasang tampang polos, tak merasa ada yang salah dengan kata-katanya. la sibuk mengelus-elus surai kuda.
"Yuk, Tan. kita naik kuda!" lantang suara Rinila.
Asti sampai terlonjak mendengarnya. Asti ikut melotot ke arah Bias sebelum menghampiri Rinila. Bias membalas pelototan Asti dengan senyum simpul.
"Kamu serius?" tanya Asti ragu pada ponakan nya itu," tadi kata mubelum pern -.... "
"Aku bisa kok naik kuda!" Rinila menyela kalimat Asti yang belum tuntas. la mendekati kuda-kuda yang berjajar di dekat parkiran mobil. Menyumpah-nyumpahi Bias dalam hati. la belum pernah menyentuh kuda karena ia memang bukan penyuka binatang. Baginya, lebih baik melihat isi mulut orang meski ada abses sekalipun di dalamnya daripada berhadapan dengan hewan. Walaupun itu hewan peliharaan yang lucu, seperti kucing, puppy, atau kura-kura.
Rinila mendekati kuda cokelat dan putih dengan hati-hati. Dalam pandangannya, mata kuda menghujamnya dengan tajam, membuat Sekar bergidik. Oh, God, help me please!
"Hati-hati, Rinila!" seru Asti was-was ketika melihat Rinila bersiap menaiki kudanya. Asti ikut naik ke punggung kuda pilihannya.
Bias melipat tangan di d**a, melihat Rinila dengan pandangan menyepelekan. Membuat Rinila kesal hingga ke ubun-ubun. Rinila berhasil menaiki punggung kuda meski harus bersusah payah mengangkat tubuhnya dan menahan geli karena menyentuh rambut kuda.
Taaaan, aku bisa!" Rinila refleks berteriak ketika tubuhnya berada dipelana. Sedetik kemudian wajahnya merah menahan malu. Bias pasti mendengar teriakannya. Ketahuan deh kalau aku tadi sok-sokan bisa naik kuda. Ah, sudah telanjur. Rinila menegakkan punggungnya. Sedikit khawatir sewaktu kudanya dihela untuk jalan. Namun, lama-lama? Ia menikmati acara berkuda.
"Fun isn't it?" tanya Bias yang tiba-tiba berada di sampingnya.
Rinila menoleh. Bias menunggang kuda putih. Rinila seperti melihat sosok pangeran berkuda yang biasa didapatinya di buku dongeng anak-anak. Rinila terpesona beberapa detik sebelum tersadar dan memalingkan muka.
Huh! Dengus Rinila. la masih kesal pada Bias. Jangan harap aku mau beramah-tamah denganmu, dumel Rinila dalam hati. Bias tahu Rinila kesal padanya
"Ayo, Mas, suruh kudanya lari," perintah Rinila pada sais kuda, nekat.
Orang yang dipanggil Mas patuh. Melecut b****g kudanya agar bergegas. Tadinya, kuda yang ditunggangi Rinila meringkik tiba-tiba. Seperti mobil mengerem mendadak. Rinila hampir saja terpelanting jika tak menjatuhkan tubuh ke leher kuda dan memeluk hewan itu erat-erat. Hilang sudah rasa gelinya pada rambut kuda, berganti panik. Rinila ingin menangis tetapi tak bisa saking tegangnya. Sais kuda sibuk menenangkan kuda. Mau tak mau, Rinila menjadi tontonan sebagian wisatawan yang tengah lalu-lalang di dekatnya. Asti menyeruak di antara kerumunan orang. Mengusir mereka lalu menghampiri Rinila.
"Rinila, are you okay?" tanyanya cemas lalu membantu Rinila turun dari kuda.
Rinila memeluk Asti, melepaskan kepanikannya dengan menangis di pundak Tantenya. Asti menepuk-nepuk punggung Rinila. Dadanya plong usai menangis. la mengusap ujung matanya yang basah. "Tadi itu lucu, ya?" Asti terkekeh.
Dari sudut matanya, Rinila melihat Bias berdiri beberapa meter dari mereka. Bias memasukkan tangan ke saku celana, kakinya yang mengenakan sneaker mengeruk-ngeruk tanah. Pandangan mereka bertemu. Rinila langsung melengos.
*
*
*
"Kamu tuh, ya, lihat-lihat dong kalau mau bercanda .dengan Rinila," sembur Asti pada Bias. "Apa sih maksudmu menyindir-nyindir Rinila, pakai bilang gadis manja tidak bisa naik kuda?"
Bias mendengarkan semburan Asti dengan tenang. la tengah bersantai di kamar. Bersandar pada kepala tempat tidur.Tangan kiri memegang majalah yang ditumpukan-
nya pada lutut yang ditekuk. Tangan kanan membolak-balik majalah. Mulutnya sedang mengunyah permen karet, "Nanti Mommy akan tahu."
"Kamu juga masih punya utang cerita sama Mommy!"ujar Asti gemas. "Mommy yakin, kamu pasti sudah pernah bertemu Rinila sebelumnya. Di mana?Kapan?Gimana ceritanya?"
"Nanti Mommy akan tahu." Lagi-lagi Bias bilang begitu.
Asti ber-huuu. Namun, ia percaya Bias. Putranya selalu memiliki alasan untuk melakukan sesuatu.
"Ya, sudah," Asti menyerah. "Mommy mau di rumah hari ini. Biar Rinila istirahat dulu. Kasihan, masa jadi supir kita terus?"
"Risiko," kata Bias cool.
Asti menimpuk Bias dengan bantal.
Sepeninggal Asti, Bias menutup majalah. Membaringkan tubuh. Kedua tangannya bersilang di belakang kepala. Matanya menatap langit-langit kamar. Ada wajah Rinila di sana. Rinila, Bias melisankan nama itu dalam hati.
Bias tak pernah lupa kejadian di Kota Pelangi sekitar enam bulan silam. Saat ia pertama kali bertemu Rinila, saat ia "menabrak" Rinila dengan sengaja dan saat uluran tangannya dibiarkan mengambang diudara. Sejak saat itu, wajah Rinila mengikuti setiap langkahnya. la tak menyangka, Rinila yang bayangannya kerap hadir di benaknya adalah sepupu jauhnya. Oh,God, what a coincidence!
Bias mengenal pribadi Rinila sedikit demi sedikit sejak menginap dirumahnya. Menurutnya, Rinila perempuan dewasa yang manja. Bias sudah memberi sedikit pelajaran padanya. Kalau ada kesempatan, Bias masih akan melanjutkan misinya ....
*
*
*
Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi, tetapi Rinila masih berada di kamar.Menelungkupkan tubuh di kasur empuknya yang berseprai putih dengan motif bunga alamanda. Kedua lutut ditekuk, telapak kaki menempel ke dinding. Rinila bermalas-malasan. Bi Santi mengantar sarapan ke kamar. Omelette dan jus jeruk. Omelette yang kini sudah dingin karena tak juga disentuh Rinila.
Rinila masih ingat kejadian di pegunungan. Dipikir-pikir, pengalaman berkuda itu seru juga. Rinila jadi mencoba kegiatan baru yang selama ini tak pernah dilakukannya. Walau ujung-ujungnya memalukan. Seharusnya ia berterima kasih pada Bias atas sindirannya. Kalau Bias tak menyindirnya, mungkin Rinila tak akan pernah tergerak untuk mencoba berkuda.
Tapi, justru itu. Kenapa harus dengan sindiran?
Rinila merasa sikap Bias sangat menyebalkan. Jauh berbeda dengan saat mereka bertemu di Kota Pelangi. Saat itu, Bias bicarabaik-baik padanya, meminta maaf karena menabrak pundaknya, mengulurkan tangan mengajak berkenalan bahkan memberikan kartu nama yang sekarang entah terselip dimana. Rinila semakin yakin Bias ingin membalas sikap Rinila yang tak acuh padanya waktu di Kota Pelangi dulu.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
"Are you sure, Nona Manja?" Bias tertawa.
"Hei, berhenti menyebutku manja!" tukas Rinila kesal.
"Memang begitu kenyataannya," timpal Bias.
"Kamu baru beberapa hari menginap di sini lalu seenaknya menyebutku manja. Apa kamu tahu aku ke kampus tanpa supir? Malah beberapa hari ini menjadi supir kalian? Aku bahkan bisa jalan-jalan ke Kota Pelangi sendirian!" Rinila membela diri meski tak yakin dengan argumen yang diutarakannya.