Lluvia membuka lemari besar berukuran hampir 5 meter yang menggantung mengitari sudut dinding ruang ganti yang disekat tembok dari kamar tidur. Isinya gaun, tas, dan sepatu-sepatu mahal. Malam sebelumnya Luce menunjukkan isi lemari itu padanya dan mengatakan semua miliknya. Ia juga meninggalkan kotak merah besar yang ketika dibuka berisi perhiasan. Lluvia tak tahu sejak kapan ia menyiapkan semua itu untuknya, gaun-gaun, sepatu, semua sesuai ukuran tubuhnya.
Dari luar kemewahan itu sekilas menyilaukan mata, tetapi entah mengapa tak membuatnya terkesan sekalipun lama hidup sederhana, semuanya serasa biasa. Hanya saja, ia menghargai pemberian Luce.
Pagi itu untuk sarapan ia mengenakan skater dress coklat terang berkerah sabrina sepanjang lutut dan pump shoes nude. Begitu mmeninggalkan kamar tidurnya, pelayan utama Charles sudah menunggu mengantarnya menuju ruang sarapan melewati ruang musik.
"Silahkan duduk, Nona" kata Charles sembari menarik kursi untuknya. Lluvia mengedarkan pandangan menuju lorong di belakang punggungnya. Lorong panjang berkubah setengah lingkaran, berlantai marmer dihias lukisan-lukisan indah dan lampu-lampu kristal mewah, menyerupai galeri seni sebuah istana -- kamar Luce berada. Ia menatap dalam, menunggu kemunculannya tapi tak ia jumpai Luce di sana.
Mengerti apa yang tengah dicari gadis itu, Charles berusaha memberi jawaban atas ingin tahunya.
"Tuan sedang berolahraga. Mungkin beberapa menit lagi selesai" Lluvia menatap lelaki itu lalu tersenyum.
Gadis itu menunggu penuh sabar, tak menyentuh apapun di meja bahkan sekedar teh penghilang dahaga. Ketika Luce muncul ia sontak berdiri menyambut. Lelaki itu tak melirik, ia sibuk menenggak segelas jus. Tubuhnya basah oleh keringat, rambutnya terikat, dengan handuk kecil melingkar di lehernya. Kaos hitam tanpa lengan yang ia kenakan mengekspos lekuk lengannya yang besar, berotot.
Kursi berderit. Luce duduk di seberang meja 1,5 meter yang memisahkannya dengan gadis itu. Gelas jus menggantung di bibirnya. Ia menatap Lluvia setelah mengabaikannya. Gadis itu duduk perlahan-lahan dengan tatapan sedikit tertunduk.
"Cocok denganmu" puji Luce dengan aura dingin yang tetap membuat Lluvia merona. Ia menunduk menyembunyikan mukanya yang merah. Setelahnya ia tak mengatakan apapun, lebih sibuk menyantap daging merah, telur rebus dan oatmeal di piringnya sambil membaca koran.
Lluvia menyembunyikan kecewa. Ia pikir akan berbincang dengannya, kenyataannya Luce memang tak pernah berubah sejak pertama kali ia bertemu, dingin, tak banyak bicara, bukan tipe yang penuh rasa peduli bahkan sesekali sengaja menjaga jarak agar tak didekati, tapi sekali waktu ia bisa sangat impulsif dan agresif. Lluvia tak banyak mengerti tentangnya, jadi lebih sering menerima dalam diam.
"Jam berapa kau akan pergi berlatih?"
Lluvia menoleh terkejut, "Jam 11 siang"
"Kalau begitu kita punya banyak waktu untuk ke rumah sakit"
Kening gadis itu mengernyit keheranan lalu bertanya dengan nada polos, "Apa ada seseorang yang sakit?"
Luce tak menjawab. Ia menyeringai tipis menutup misteri, meninggalkan meja makan menyisakan Lluvia dan kebingungannya. Selesai bersantap gadis itu kembali ke kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur menatap taman mawar merah dari jendela terbuka. Matahari bersinar keemasan membuat bulir air berkilau seperti mutiara di antara merah darah. Ia tersenyum terbawa keindahan itu sesaat.
Pintu terbuka. Luce tiba-tiba masuk menarik kepala Lluvia mendongak padanya hingga setengah bibirnya membuka.
Ia melumat bibir gadis itu berulang kali, memasukkan lidahnya ke mulut Lluvia hingga saliva mereka bertukar. Lluvia kelabakan tak biasa mengimbangi. Ia berusaha menyerah mengakhiri ciuman itu dengan mendorong Luce, tapi lelaki itu tak terkalahkan. Ia menekan bibir dan kepala Lluvia makin keras menempel padanya lalu menelan bibirnya makin liar hingga pemberontakannya tak berarti. Lluvia pasrah membiarkan ciuman Luce menggila sesekali menggigit bibirnya.
Puas berciuman, Luce mendorong Lluvia dengan keras. Gadis itu jatuh ke ranjang dengan napas terengah seolah baru tercekik, sementara kedua kakinya tak bisa digerakkan, tertindih berat tubuh Luce yang tak sebanding dirinya. Lelaki itu memulas senyum penuh puas melihatnya kepayahan. Ia menggerakkan lututnya melingkari kedua d**a Lluvia yang membusung tertutup gaun, kemudian membuka celana kain yang ia kenakan.
Ereksinya sudah mengeras. Penuh bangga ia menggosok bagian itu di ujung bibir Lluvia yang pasrah di bawah kakinya. Tanpa memberi peringatan ia menekannya sepenuhnya dalam mulut Lluvia, gadis itu nyaris tersedak, air mata menggantung di sudut matanya tapi Luce tak goyah, darahnya makin menggebu. Ia memegang kepala Lluvia lalu menariknya mengikuti irama yang diinginkan hasratnya.
Desahan sayup meluncur beberapa kali dari bibir Luce. Matanya separuh mengatup menikmati lumatan mulut dan lidah Lluvia yang menderita di bawah kakinya. Saat tegangan ereksinya makin kuat ia menggerakkan kepala Lluvia makin cepat lalu tak lama ia melenguh panjang dan lega.
Puas dengan sensasi yang ia dapat, Luce menarik ereksinya dan merapikan kembali celananya. Lluvia yang sejak tadi sesak kesulitan bernapas, bangkit terbatuk berulang kali, lalu setetes cairan meluncur keluar dari sudut bibirnya. Luce hanya menengok lalu pergi tanpa perasaan. Mata Lluvia berkaca-kaca. Ia menangis perlahan lalu makin deras, pada akhirnya ia tak lebih dari mainan, alat atau bahkan p*****r untuk Luce. Sayangnya pergi bukan pilihan, hanya Luce yang ia miliki.
***
Luce bersender punggung pada mobil Range Rover hitamnya di garasi bersama 3 mobil lainnya yang tak kalah mahal. Ia merogoh saku mantel overcoat abu-abunya, mengambil cerutu yang ia hisap lekat-lekat, menunggu Lluvia muncul. Sudah 10 menit ia berdiri di sana dibiarkan menunggu hampir bosan. Sesekali ia melirik taman mawar dan mengamati para bodyguard-nya yang siaga berjaga dalam 2 mobil BMW menunggu ia meninggalkan tempat itu.
Suara sepatu meletup lembut. Lluvia muncul mengenakan skater dress biru navi sepanjang lutut yang membentuk lekuk pinggangnya yang kecil dan ramping. Ia begitu anggun, rambutnya yang terurai sepanjang punggung menambah kecantikannya yang sempurna. Luce melongo sebentar, menginjak cerutunya kemudian membukakan pintu mobil untuknya.
**
Mobil Luce menuju London barat, berhenti di depan rumah sakit King Edward VII. Ia turun lebih dulu lalu memeluk pinggang Lluvia yang masih tak mengerti alasan mengapa mereka di sana.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu Tuan?" kata seorang suster setengah baya berkulit gelap dari nurse station menyambut mereka ketika membuka pintu.
"Luce Green Howard, saya sudah membuat janji dengan dokter Cristina Barnick"
Suster itu menelpon, setelah bicara beberapa saat ia menyilahkan mereka, "Silahkan ikut saya"
Mereka melewati lorong pendek menuju lift privat. Suster itu menekan tombol menuju lantai 3, lalu ketika lift membuka tampak dua perawat menyambut di salah satu kamar periksa yang cukup nyaman dengan sebuah penanda menggantung tentang dokter Cristina Barnick yang seorang Ginekolog.
Lluvia termangu, bingung, tak mengerti alasan mengapa ia di sana. Luce juga tak memberitahu apapun. Ia melirik lelaki itu, memulas senyum misterius kemudian merangkul pinggangnya memasuki ruang periksa hingga sulit baginya menolak atau bertanya meski bingung.
"Selamat datang tuan Luce" sambut dokter Barnick menyalami lelaki itu. Wanita berusia akhir 40-an itu memiliki wajah yang sangat bersahabat dan keibuan. Matanya coklat, rambutnya tipis keemasan. Ia melirik sekilas pada Lluvia lalu terpesona. "Cantik sekali" katanya, menyilahkan mereka duduk.
"Jadi... Ini mungkin hanya kecurigaan saya dan itu alasan saya membawa pasangan saya kemari. Saya kira dia mungkin menderita vaginismus" Luce menatap Lluvia, rasa penasaran gadis itu terjawab. Ia tak menduga jika lelaki dingin yang tak pedulian itu punya inisiatif melakukan hal ini sementara ia sendiri tak pernah memikirkan alasan mengapa ia merasa sangat menderita saat mereka bercinta.
Dokter Barnick mengalihkan perhatian pada Lluvia, "Apa Anda merasa sakit saat berhubungan seks?"
Gadis itu mengangguk, "Iya, sangat menyakitkan, rasanya seperti ditusuk-tusuk pisau dan saya tidak tahu kenapa"
"Apa Anda merasa cukup terangsang sebelum penetrasi terjadi?"
Lluvia melirik Luce, "Saya cukup b*******h"
"b*******h seperti apa?"
Luce menimpali kepayahan Lluvia dalam keterampilan bicaranya yang buruk, "Kami menggunakan pelumas dan itu masih terasa menyakitkan untuknya. Kami mencobanya beberapa kali, tapi gagal, saya merasa seperti memasuki tempat yang sangat sempit lalu bertemu tembok yang tidak bisa diteribos, sampai saya berpikir tidak akan mencoba melakukannya lagi sampai saya mengerti apa yang terjadi" Lluvia menghela napas lega mendengar penjelasan Luce yang lebik baik darinya.
"Apa Anda juga merasakan rasa sakit yang sama saat memasukkan sesuatu dalam v****a Anda, seperti tampon?"
Lluvia menggeleng, "Saya tidak pernah memakai tampon"
"Anda sudah pernah melakukan seks sebelumnya?"
"Belum pernah"
"Anda pernah punya riwayat penyakit lain atau trauma karena pelecehan seksual?"
"Hampir, tapi tidak terjadi. Dan kejadian itu setelah saya mencoba berhubungan seks untuk pertama kali"
Dokter Barnick menyatukan kedua jarinya dengan raut muka lebih serius, "Ada kecenderungan anda mengalami Vaginismus. Vaginismus membuat otot-otot di v****a menegang dan mengencang ketika terjadi penetrasi. Untuk mengetahui separah apa vaginismus anda, saya harus memeriksanya. Silahkan lepas pakaian dalam Anda dan berbaring di atas tempat tidur.
Lluvia melirik Luce yang masih santai di kursi periksa. Sebaliknya ia tak nyaman jika seseorang ada di sana melihat dokter memeriknya, maka ia memberanikan diri menegurnya.
"Kau tidak keluar?" Luce mengangkat bahunya tak acuh. Dokter Barnick hanya tersenyum.
"Tak masalah, ada tirai"
Lluvia berbaring di atas ranjang periksa yang mengharuskannya membuka kedua kakinya lebar-lebar. Jantungnya berdegup kencang bercampur gugup, tak tahu bakal pemeriksaan apa yang akan dilakukan. Sepintas ia melihat dokter Barnick mengenakan sarung tangan karet dan masker.
"Silahkan tarik napas beberapa kali, buat diri anda rileks" Lluvia melakukan seperti yang diminta dokter Barnick selama beberapa saat. Setelah 2 menit berlalu dokter Barnick bertanya lagi, "Apa Anda sudah merasa cukup nyaman?" anggukan Lluvia jadi persetujuan. Dokter Barnick memeriksanya beberapa saat sebelum mengambil spekulum yang perlahan coba ia masukkan dalam organ genital Lluvia. Ketika benda itu masih menempel di sisi luar genitalnya Lluvia biasa saja, tapi ketika benda itu berusaha menerobos masuk dalam tubuhnya ia terkejut dan merintih kesakitan. Dokter Barnick tak memaksa lagi memasukkan alat itu. Kini ia mencoba menggunakan jari tangannya untuk memastikan jika perasaan tak nyaman yang dimilik Lluvia memang diakibatkan penyakit yang ia derita. Saat jari kelingking dokter Barnick berusaha memasuki tubuh Lluvia, sekali lagi ia merintih keras sampai Luce terkejut.
Dokter Barnick membuka tirai. Lluvia turun dengan wajah pucat kemudian duduk di samping Luce.
"Derajatnya 4 dari 5. Untuk bisa menangani kondisi ini saya menyarankan untuk melakukan dilatasi berbantu dan berbagai pengobatan penunjang lainnya seperti konsultasi dengan seksolog. Dilatasi berbantu salah satu terapi meringankan vaginismus dengan membuat otot-otot v****a bisa menerima penetrasi"
Luce menatap Lluvia, "Kalau itu satu-satunya cara tidak masalah. Dokter bisa menjelaskan dulu padanya, dia mungkin ingin tahu"
Dokter Barnick mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Lluvia dan menjelaskannya, "Dilatasi berbantu, salah satu prosedur meredakan vaginismus dengan memasukkan dilator ke dalam v****a lewat pembiusan. Dilator akan membantu otot v****a meregang dan menjadi elastis. Melakukan dilatasi berhantu tidak serta-merta menyembuhkan vaginismu, masih ada tahap yang perlu dilalui seperti latihan dilatasi mandiri yang harus dilakukan dalam kurung waktu tertentu dengan memasukkan berbagai ukuran dilator sampai v****a terbiasa dengan penetrasi"
"Kau tidak masalah dengan itu 'kan?" Luce menatap Lluvia yang pucat. Ia tak pernah sekalipun menjalani operasi dan membayangkan organ paling sensitif di tubuhnya akan di bedah, membuat tubuhnya meremang dingin berkeringat. Ia bingung, menolak atau menerima. Tapi menatap Luce membuat ia sadar, jika menolak, Luce mungkin akan marah. Dengan setengah hati menahan takut ia mengangguk.
Lluvia diberi baju ganti, tangannya di lingkari barcode. Setelah semua selesai ia dibawa ke kamar rawat dengan kursi roda. Agak berlebihan menurutnya tapi patuh saja.
Ruang rawat yang ia tempati tak seperti yang dibayangkannya, kamar itu tak seperti rumah sakit, lebih mirip hotel. Ada ruang tamu untuk 10 orang dengan sofa besar berwarna cream, sebuah televisi, kulkas, meja makan, bahkan sebuah perapian. Jendelanya lebar bisa melihat pemandangan London Barat. Ia tahu bisa mendapatkan semua fasilitas mewah ini karena Luce. Namun saat ini ia tak tahu di mana lelaki itu, saat dokter mengatakan ia harus rawat inap Luce pergi mengurus segalanya sementara ia ditinggalkan bersama para perawat.
Memasuki kamar Lluvia terkejut masih ada Luce yang menunggu. Ia duduk santai di sofa yang di belakangnya tertutup tirai, sibuk dengan ponselnya.
"Kukira kau sudah pulang" kata Lluvia naik ke atas tempat tidur.
"Setidaknya aku harus berpamitan 'kan?" timpalnya setengah abai.
"Jadi kau benar-benar akan pergi?" wajah Lluvia sedikit cemas.
Luce berdiri, tak menjawab. Ia menarik semua tirai jendela. Seketika ruangan itu dipenuhi cahaya matahari menusuk yang mengganggu.
"Terlalu terang" gerutunya, menarik kembali tirai putih, sementara membiarkan tirai abu-abu tesingkap. "Pemandangan di luar sangat indah. Kalau kau bosan, kau bisa melihat pemandangan dari sini"
Lluvia tak bereaksi beberapa saat, namun ada pertanyaan yang membuatnya tergelitik yang ia ungkapkan pelan dan hati-hati seperti biasa, "Apa kau akan datang saat operasi besok?"
"Tentu saja. Dokter bilang operasinya sekitar pukul 10 pagi. Aku tidak akan terlalu sibuk"
Lluvia tertunduk, "Kalau begitu berhati-hatilah"
Luce menghampiri kemudian mengecup keningnya, "Aku akan datang saat punya kesempatan. Beristirahatlah"