Livia membuka pintu restoran dengan ragu. Embusan aroma makanan dan gelak tawa dari dalam seolah menjadi pengingat ironi di balik keberaniannya untuk hadir di acara ini. Pertemuan alumni. Bukan sesuatu yang dia nantikan, tapi menghindarinya lebih lama hanya akan memperburuk segalanya.
Matanya menyisir ruangan, menemukan satu-satunya kursi kosong di salah satu meja panjang restoran. Tepat di sampingnya, duduk seorang pria yang selama ini dia hindari. Firasatnya langsung berubah buruk.
"Oh-ho! Lihat siapa yang datang. Livia si gadis pesuruh!" suara Dorian terdengar tajam, diiringi tawa yang penuh sindiran.
"Jangan mulai, Dorian. Kita bukan anak sekolahan lagi," sahut suara lain dengan nada lebih tenang.
Dorian menyeringai. "Ayo, Livia, duduk di sini. Aku sengaja mengosongkan kursi ini untukmu."
Livia menghela napas pelan dan melangkah ke kursi tersebut, tubuhnya terasa kaku saat dia duduk. Seolah kursi itu adalah jerat yang memaksa dia berhadapan dengan bayangan masa lalu. Pandangannya beralih ke tamu-tamu lain, berharap mengalihkan perhatian dari pria di sampingnya.
"Livia," Dorian bersuara lagi. "Apa kau masih bekerja sebagai tutor?"
"Y-ya," jawab Livia pelan, berusaha mempertahankan ketenangan.
Dorian tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk Livia meremang. "Bukankah bayarannya kecil? Aku dengar tutor lewat agen pendidikan hanya dibayar lima belas sampai tiga puluh pound sterling per jam. Dengan kepintaranmu, mengapa tak ada perusahaan besar yang mau menerimamu?"
Livia tak langsung menjawab. Dia tahu sindiran itu hanyalah pancingan. Namun, sebelum dia sempat merespons, Dorian sudah kembali berbicara.
"Ah, aku lupa! Kepintaranmu sudah tak berlaku lagi setelah gelar gadis pesuruh menempel padamu, ya?"
Kata-kata itu menghantam Livia seperti pukulan di perut. Tangannya mengepal di bawah meja.
"Kak Dorian, cukup. Hentikan sikap sarkastismu," tegur seseorang di ujung meja.
Perlahan, suara percakapan di sekitar mereka memudar. Semua mata tertuju pada Livia dan Dorian. Atmosfer yang semula ringan kini berubah menjadi tegang.
"Sarkastis?" Dorian terkekeh pelan. "Ayolah, kita hanya mengenang masa lalu. Bukankah itu hal yang wajar?"
Livia mencoba tersenyum, menutupi gejolak di dalam dirinya. "Aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir," jawabnya singkat, mencoba mengakhiri topik.
Kesabaran Livia akhirnya mencapai batas ketika Dorian tanpa ragu menyentuh pahanya di bawah meja. Sentuhan itu membuat darahnya mendidih.
Livia bertindak impulsif, tangannya melayang, menampar pipi Dorian dengan keras. Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan, membungkam setiap percakapan. Semua mata tertuju pada mereka.
"Kau berani menamparku?!" seru Dorian, wajahnya merah padam antara marah dan malu.
"Bukan hanya itu." Livia meraih gelas di depannya dan membalikkan isinya ke kepala Dorian. "Aku juga menyiramimu!"
Dorian melongo, terkejut dan tak percaya. "Kau gila!"
Livia menatapnya tajam, sorot matanya penuh dengan kemarahan. "Gila?" ucapnya. "Siapa sebenarnya yang lebih gila di sini? Aku atau kau, yang berani menyentuhku di tempat umum tanpa sedikit pun rasa malu?"
Wajah Dorian pucat seketika. "I-itu bohong! Aku tak menyentuhnya! Dia memfitnahku!"
Tatapan curiga dari semua orang membuat Dorian kehilangan keberanian. Seorang staf restoran mendekat, memintanya untuk meninggalkan tempat itu.
Livia menghela napas lega. Meskipun dia tahu rencananya untuk meninggalkan kesan baik di pertemuan ini gagal total, dia merasa puas telah berdiri untuk dirinya sendiri.
Setelah insiden itu, suasana perlahan kembali normal. Beberapa teman lama mulai mendekatinya, berbicara dengan penuh simpati. Dan Livia, si gadis pesuruh dari masa sekolah, akhirnya menikmati acara reuni tanpa rasa takut. Dia juga berhasil mengubah cara pandang teman-temannya karena keberaniannya itu.
Ketika acara akhirnya usai, Livia keluar dari restoran dengan langkah mantap. Ada kelegaan yang menjalar di dadanya, menciptakan senyum tipis penuh kepuasan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa beban yang selama ini menyesakkan akhirnya terangkat.
"Sepertinya malam ini aku akan tidur lebih nyenyak," gumamnya, menikmati angin malam yang lembut menerpa wajah.
Kedamaian itu retak seketika oleh suara yang menghentikan langkahnya. Suara yang dia kenal, suara ...
"Kau pikir semuanya akan semudah itu?"
... Dorian.
Livia menoleh, dan seketika tubuhnya menegang. Matanya menangkap sosok Dorian yang berdiri tak jauh, tatapannya tajam disertai senyum dingin.
Instingnya langsung menyuruhnya pergi. Dia mempercepat langkah, berusaha menjauh dari sosok Dorian. Namun, makin dia mencoba menghindar, makin terasa jelas bahwa Dorian tak berniat melepaskannya.
"Berhenti, Livia!" teriak Dorian dari belakang, suaranya memantul di jalanan yang sepi. "Kau sudah mempermalukanku di depan semua orang!"
Langkah Dorian yang tergesa berhasil memotong jalan, memaksa Livia menghentikan langkah dan mundur dengan waspada.
"Jangan mendekat!" jerit Livia dengan suara melengking. "Aku akan berteriak jika kau mencoba mendekat!"
Dorian menyeringai puas, langkahnya makin mendekat. "Teriaklah," ucapnya dengan nada mengejek, bibirnya melengkung sinis. "Teriak sekeras yang kau mau. Sebelum ada yang datang, aku pastikan kau sudah—"
Bruk!
Kata-kata Dorian terputus. Tubuhnya terhuyung, lalu ambruk dalam sekejap. Di belakangnya, berdiri sosok Alistair, dengan tangan masih terkepal erat.
Livia hanya mampu menatap Alistair dengan mata terbelalak, perasaan lega dan keterkejutan bercampur menjadi satu. Bayang-bayang ketakutan yang tadi mencengkeram dirinya perlahan memudar.
Livia mendongak, suaranya nyaris berbisik. "Mr. Grant ...?"
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pria ini mengejar Anda?"
Livia menelan ludah, mencoba menenangkan diri meskipun tubuhnya masih gemetar. Pandangannya tertuju pada Dorian yang terkapar tak bergerak. "Dia ... seorang teman lama dari sekolah. Kami bertemu di acara reuni, tapi ... semua berakhir seperti ini."
Alistair mengangkat alisnya, wajahnya tak menunjukkan sedikit pun toleransi. "Kalau begitu, kita harus melaporkan ini ke polisi," katanya tegas.
Livia menggeleng pelan. "Tidak. Setelah ini, dia takkan berani mendekat lagi."
Tatapan Livia kini beralih kepada Alistair, menelusuri sosok pria itu dari kepala hingga kaki. Ada sesuatu yang berbeda. Tak seperti biasanya, Alistair mengenakan pakaian kasual.
"Ngomong-ngomong, kenapa Anda bisa ada di sini?" tanya Livia penasaran.
Alistair menyesuaikan posturnya, seolah baru mengingat alasan kedatangannya. "Saya sudah mencoba menghubungi Anda," katanya dengan nada serius, "tapi tak mendapatkan jawaban. Karena itu, saya memutuskan untuk menemui Anda secara langsung. Namun, di perjalanan menuju rumah Anda, saya melihat Anda berlari."
Ada jeda sejenak saat dia kembali bicara, "Dan sepertinya insting saya benar. Anda sedang dalam masalah."
Livia mengerutkan dahi, rasa bersalah perlahan merayap di benaknya. "Maaf soal itu. Sepertinya saya terlalu asyik mengobrol tadi hingga lupa memeriksa ponsel."
Alistair mengangguk singkat, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius, "Saya tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat, terutama setelah apa yang baru saja terjadi. Tapi ada hal mendesak yang perlu Anda ketahui."
Livia menegakkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama.
"Ini tentang Naia," lanjut Alistair. "Dia belum pernah pergi sampai larut malam seperti ini, dan saya tak bisa menghubunginya. Saya pikir, mungkin Anda memiliki petunjuk ... sesuatu yang bisa membantu saya menemukannya."
Perasaan lega yang tadi sempat muncul di d**a Livia kini digantikan oleh gelombang kecemasan baru. Pandangannya mengabur sejenak sebelum kembali fokus, ponselnya sudah berada di tangan, dan jemarinya mulai sibuk memeriksa layar. Detik itu juga, pandangannya membeku pada sebuah pesan yang masuk beberapa waktu lalu.
Livia mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan tatapan Alistair yang penuh harap. Dengan suara mantap, dia berkata, "Saya tahu di mana Naia."