“Om nggak perlu lakuin ini.” Kania menghindar. Kepalanya mundur. “Ini Cuma luka kecil, kok.” Biantara berhenti. Namun, tidak lama kemudian, satu tangannya diletakkan di tengkuk gadis tersebut. Dan satu tangannya yang alin kembali menempelkan katembatnya ke luka itu. “Awh, pelan-pelan, Om ....” Pria tersebut mematung. Kata-kata itu ... suara itu ... mengingatkannya dengan malam itu. Kenapa Biantara tiba-tiba teringat? Tekanan di tengkuk itu mengendur. Matanya menatap jeli ke arah Kania yang juga menatapnya penuh arti. Kenapa perasaan iba itu muncul lagi? Apalagi suara gadis yang meringis itu membuat suasana tubuhnya seperti tengah dibakar. Ada sensasi aneh yang membuat tubuhnya meremang. Biantara merasa sesuatu yang asing, tapi candu. Ah, sial! Bahkan, mata gadis tersebut mem

