“Sialan! Kenapa harus kayak gini, sih? Kenapa harus masa depanku rusak kayak gini?” Kania bergumam pelan. Badannya sedikit membungkuk, berharap rasa sakit itu sedikit mereda. Saat rasa sakit itu sedikit berkurang, mual kembali dirasakan. Perut yang tadinya tegang itu mendadak seperti diaduk-aduk oleh sesuatu tidak kasat mata. Hoek! Gadis itu spontan menutup mulut, takut-takut jika suaranya itu terdengar dari lantai bawah maupun kamar sebelah—kamar adik-adiknya. Tubuh itu merosot, merendah hingga duduk sejajar dengan kloset. Ia memuntahkannya di sana. Tangannya berusaha menekan tengkuknya sendiri. Beberapa kali muntah, rasanya tidak ada lagi tenaga. Kania lemas. Ia sandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi yang kering itu. Suhu dinginnya bahkan tidak dipedulikan. Kania hanya ing

