Bab 11-2

700 Kata

“That’s not possible, Nala.” Kania duduk di sebuah kursi yang ada di rooftop itu. Ia membuang napasnya gusar. “Gimana kita bisa lakuin itu kalau tiap sudutnya ada CCTV. Yang ada kita ketahuan dulu sebelum gerak.” Sesaat kemudian, Nala menjentikkan jari. Sebuah ide melintas cepat di kepalanya. Gadis itu tiba-tiba teringat pada Herman—penjaga sekolah muda yang, sejak lama, diam-diam menaruh hati padanya. Ya. Mungkin kali ini ia bisa memanfaatkan keadaan itu. Mengelabui Herman bukan hal yang terpuji, tapi situasinya mendesak. Tidak ada pilihan lain selain mempertaruhkan harga dirinya—setidaknya untuk sekali ini saja. Demi Kania. Demi menebus kesalahan dan rasa bersalah yang terus menghantui pikirannya karena telah membuat sahabatnya terjebak dalam keadaan seburuk ini. “Gue punya ide.” Ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN