Penjelasan panjang Kania membuat Nala terdiam. Ternyata, di balik sosok Kania yang terlihat sempurna dan menjadi primadona sekolah, ada sisi gelap yang tidak pernah terlihat. “Maksud lo gimana, Kania?” tanya Nala, berusaha memperjelas. “Dunia luar seasyik ini dan lo cuma nikmatin dengan baca buku, ngerjain soal, terus tidur?” Kania membisu. Sampai akhirnya, mereka sampai di restoran yang Nala maksud. Sengaja gadis itu memilih ruang yang paling pojok, untuk menghindari keramaian. Beberapa menu mereka pesan. Keduanya duduk berhadapan dengan batas meja yang cukup lebar. Obrolan itu lantas berlanjut. “Bukan aku yang mau, Nal,” terang Kania, berat. “Tapi, takdir. Dari kecil, aku udah biasa ditinggal sama Bia dan Papa. Ya, nggak selalu, sih, tapi sering. Kalo Bia nggak ada, Papa nggak per

