Bab 23-3

717 Kata

Tidak seperti biasanya, Kania mengangkat kepalanya, tinggi. Tatapannya penuh nyali. Rasa gentar di hati ia lawan demi membela diri sendiri. Sudah cukup Kania mengalah. Sudah cukup sabarnya selama ini. Ia sakit, hancur, tapi tidak ada yang peduli. Tidak ada yang tahu sebesar apa usahanya untuk bertahan. Ia dipaksa bertahan oleh keadaan. “Sengaja kamu mau buat saya malu?” Tudingan itu tidak direspons sedikit pun. Kania diam. Ia membungkam rapat mulutnya. Tubuhnya masih duduk di atas sofa abu. Hening. Kania membiarkan ketegangan itu berlangsung makin lama. Ia biarkan sang papa memaki sepuasnya. Tidak disangka, sikap diamnya itu justru membuat Hans geram. Ia merobek kertas laporan nilai itu hingga menjadi kepingan kecil. Kepingan yang masih ia genggam lantas dilempar kasar ke waj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN