Gadis itu harus bergerak. Ia tidak boleh pasrah. Doktrin semenjak kecil untuk selalu memberi yang sempurna di tiap sesi berhasil membentuk karakternya yang kuat. “Huh!” Helaan napas kasar keluar. Ia mengusap perutnya yang terdapat janin pamannya sendiri. Satu hal yang patut gadis tersebut syukuri, rasa mual tidak begitu dirasa. Setidaknya, itu menjadi nikmat yang harus Kania akui. Sebab, dengan hal tersebut, ia tidak perlu terlalu repot menyembunyikan kehamilannya. “Kakak? Masih di dalam?” Seruan dari depan pintu membuyarkan lamunan Kania. Ia gegar menempatkan hair dryer ke tempat semula lalu melangkah ke pintu kamarnya. Begitu dibuka, Kania bisa melihat Yasmin berdiri di sana sambil membawa nampan berisi makan malam dan segelas air putih. “Harusnya Bia nggak perlu repot bawa

