“Jangan bilang aku harus nikah sama Davin?” Kania bertanya dengan nada cemas, bahkan sedikit takut. Nala langsung menggeleng, cepat dan tegas. Ia tidak membenarkan dugaan itu. “Bukan. Kalo lo nikah sama Davin juga nggak bakal bikin hidup lo tenang.” Nada suaranya datar, tapi mantap. Ia menarik napas pelan sebelum menambahkan, “Davin bandel, tapi nggak sebodoh itu soal beginian.” “Terus, apa solusinya?” Ada tuntutan dalam suara Kania—putus asa yang ia sembunyikan dengan susah payah. Kepalanya terasa sesak; logikanya tidak bekerja sama sekali. “Bilang sama si Om.” Bibir Kania langsung berdecak pelan, kesal. Jelas itu bukan jawaban yang ingin ia dengar. Biantara sebentar lagi akan menikah dengan Melati. Dan jika ia jujur sebelum pernikahan itu terjadi, sama saja ia menyerahkan leherny

