Bab 113-4

1188 Kata

“Ad,” suara Ranti melembut, hampir memohon. “Tante tahu kamu yang paling mengenal Biantara. Tolong … katakan sesuatu pada Tante. Tolong, Adrian.” Adrian menghela napas berat. Ia mengangkat pandangannya, menatap ibu dari sahabatnya itu. “Hanya satu, Tante.” Adrian menjeda, memberi Ranti waktu untuk benar-benar mendengarkan. “Jangan membenci yang seharusnya tidak kalian benci. Bisa jadi, itulah hal terbaik yang pernah kalian miliki.” Dahi Ranti mengernyit dalam. Alisnya bertaut, matanya menatap Adrian seolah mencari celah penjelasan yang tidak kunjung datang. “Maksud kamu apa, Adrian?” Adrian tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menoleh ke jendela sejenak seakan menimbang sesuatu yang berat di kepalanya. Lalu tanpa menatap Ranti, ia berucap singkat, “Kania.” Sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN