Bab 77-2

714 Kata

Perlawanan kecil itu cukup untuk membuat Biantara menggeram. Ia melangkah maju, satu kakinya menyelip di antara kedua kaki Kania yang terbuka, jarak mereka mendadak terlalu dekat. “Jangan melempar tanggung jawab ke orang lain.” Kania tergagap. Tatapannya terangkat, terkunci pada wajah Biantara yang datar—tanpa emosi, tanpa ragu. Ia tak menjawab. Justru ada sorot menantang yang perlahan muncul di matanya. Perhatian Biantara kemudian turun ke tangan Kania. Luka itu … jejak dari kemarahannya tadi. Sesaat, rahangnya mengeras. “Gadis labil.” “Daripada temperamental kayak Om.” Kalimat itu meluncur tanpa gentar, tipis namun tajam—cukup untuk menyayat. “Gadis tidak tau malu!” “Memang. Baru tahu, Om?” Kania memiringkan kepala, senyum remeh tersungging di sudut bibirnya. Tangannya terangkat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN