“Nggak,” gumamnya pelan. “Aku nggak mau ke pantai.” Nada suaranya getir, hampir mengejek diri sendiri. “Ngapain juga. Sengaja banget ngajakin aku cuma buat nonton mereka berduaan.” Kania kembali mengalihkan perhatiannya pada ponsel. Panggilan video dari Naren masuk, dan tanpa ragu ia mengangkatnya. Percakapan itu mengalir begitu saja. Tanpa sadar, waktu berlalu lebih dari satu jam. Udara mulai terasa dingin, menyusup ke kulit. Kania akhirnya pamit, memutus panggilan, lalu masuk ke kamar. Ia membersihkan diri sekadarnya dan memilih meringkuk di balik selimut. Tubuhnya malas bergerak. Ia tidak ingin keluar, tidak ingin melihat—atau pura-pura melihat—bagaimana pasangan yang sedang honeymoon itu menghabiskan waktu bersama. Brak! Suara keras itu membuat mata Kania terbuka lebar. Kantuk y

