Ranti melayangkan pertanyaan sinisnya sambil menatap Kania yang kini berjalan ke arah dapur. Gadis itu tampaknya acuh tak acuh dengan kehadirannya. “Dia penurut banget, Ma. Kania nggak ngelakuin hal aneh-aneh.” Melati berucap bangga. Tampak ia begitu menjaga supaya Kania tidak dimarahi oleh Ranti maupun Hanggara. Gadis yang tengah mengambil minum itu tersenyum singkat ke arah Melati, seolah mengucapkan terima kasih dari jarak jauh. “Syukurlah kalau begitu.” Hanggara mengembuskan napasnya lega. Ia memperhatikan tiap sisi mansion putranya. “Bian ke mana, Melati?” “Mas Bian langsung ke kantor, Pa. Katanya ada kegiatan meeting mendadak.” Ranti berdecak. “Anak itu benar-benar gila kerja!” Di tengah obrolan itu, suara bel dari luar berbunyi. Kania gegas berlari kecil ke arah pintu uta

