Tak butuh waktu lama hingga sarapan sederhana itu siap. Melati sempat menatap ke arah tangga. Kania masih belum turun. Pintu kamarnya tetap tertutup rapat. Ada rasa heran yang menggelitik. Biasanya, Kania selalu turun pagi-pagi, menyambutnya dengan sikap sopan dan senyum kecil yang khas. Beberapa saat kemudian, Biantara akhirnya keluar dari kamar. Ia menggulung lengan kemejanya sambil menuruni anak tangga satu per satu, wajahnya datar seperti biasa. Pria itu langsung duduk dan menatap sarapan di hadapannya. “Apa dia bangun terlambat, Melati?” Pertanyaan itu membuat Melati menggigit bibir bawahnya. “Em… nggak, kok. Dia baru aja ke atas setelah selesai nyiapin roti buat kamu, Mas.” Terpaksa Melati berbohong. Ia tak mungkin berkata jujur selama Kania belum juga bangun—terlebih jika haru

