Biantara menekankan kata terakhirnya. Pria tersebut memberi penegasan pada gadis yang kini hanya terdiam. Kania memejam dalam beberapa detik. Ia tidak mau dalam posisi ini. Rasanya serba salah. Serba susah. Bagaimana kehamilannya akan baik-baik saja jika dirinya saja tidak pernah bisa tenang. Jangankan tenang. Untuk bernapas saja rasanya sulit. Pandangan Biantara turun. Ia melihat cincin emas melingkar di jari Kania. Ditatapnya benda itu beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengambil alih. “Ini bayaran kamu melayani dia?” Kania berusaha meraihnya. Namun, terlambat. Biantara sudah melemparnya entah ke mana. Pria itu lantas menampilkan senyum miring khasnya seolah kembali mengejek Kania. “Masih kurang uang yang saya berikan? Hm?” Gadis itu turun dari tempat tidur. Ia berusaha

