Bab 100-2

712 Kata

“Aku tahu, Sayang,” jawab Naren tenang. “Om Adrian udah cerita semuanya ke aku.” Kania menunduk. Jemarinya saling meremas di pangkuan. Meski kata-kata Naren terdengar menenangkan, rasa waswas itu belum juga sepenuhnya pergi. Gadis itu membisu dalam beberapa detik. Ia menebak Adrian diberitahu oleh Biantara tentang masalahnya dengan Davin. “Sekarang kita masuk. Kita temui Om Adrian.” “Iya, Ren.” Setelah mendapat persetujuan itu, Naren akhirnya turun untuk membukakan pintu untuk Kania. Ia merangkul gadis tersebut untuk dibawa masuk ke ruangan Adrian. “Om.” Naren menyapa pria yang kini sibuk dengan laptopnya. Kehadiran sang keponakan dan gadis itu membuat Adrian memilih untuk menunda pekerjaannya. “Ah, kalian. Duduk-duduk.” Kania dan Naren duduk di kursi tamu. Adrian menatap kedu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN