Bab 100-4

1142 Kata

Naren. Lelaki itu sebenarnya hendak menemui Kania di ruang kerja pamannya. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia tak jadi masuk. Tatapannya terkunci pada pemandangan di hadapannya. Terlalu dekat. Terlalu personal. Ia melihat bagaimana tangan kekar sang paman merangkul Kania, bahkan mengusap lengan gadis itu seolah tak ada batas. Menjijikkan. Kata itu bergema di kepala Naren. Sekejap, ia teringat ucapan Adrian kemarin—tentang Kania yang mungkin tidak sebaik yang ia kira. Kini, semuanya terasa masuk akal baginya. Dalam pikirannya yang diliputi emosi, Naren menarik kesimpulan pahit: Kania ternyata memiliki hubungan pribadi dengan Adrian. Ia mengepalkan kedua tangannya geram. Kalimat terakhir yang tadi ia dengar dari mulut Adria seolah-olah menegaskan betapa dekatnya hubungan d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN