Bab104-2

700 Kata

“Maaf, ya, Kak. Andai aku nggak teledor numpahin minyak, mungkin Kak Melati nggak harus di sini sekarang.” Melati mengangkat tangan yang tidak terpasang infus, lalu mengusap kepala Kania penuh sayang. Ia menggeleng pelan, senyumnya kembali mengembang dan menenangkan. “Bukan salah kamu. Tadi Kakak juga buru-buru ambil minumnya. Jadi, Kakak nggak lihat ada minyak.” Nada suara Melati lembut, berusaha menenangkan. Usapan tangannya masih bertahan di kepala Kania, seolah ingin menegaskan bahwa gadis itu tidak sendirian. “Oh. Jadi, anak saya begini gara-gara kamu?!” Suara nyaring itu tiba-tiba memecah suasana. Pintu terbuka dari ambang, membuat Kania refleks menoleh. Di sana berdiri Melanie, melangkah masuk dengan sorot mata tajam penuh amarah. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Di bela

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN