Adrian menyesapnya dua kali. Ia mengangguk pelan. “Selera Om Hanggara memang nggak main-main, Bian.” Ia tersenyum tipis. “Aromanya kuat, rasanya pas. Nggak getir.” “Kamu kebanyakan memuji, Ad,” balas Biantara singkat. Adrian terkekeh kecil. Ia lalu meletakkan cangkirnya di atas meja. Ekspresinya berubah, tak lagi santai. “Jadi, bagaimana?” Alis Biantara sedikit menukik mendengar pertanyaan itu. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab. “Melati? Dia baik-baik saja. Cuma kandungannya agak lemah. Dokter minta dia istirahat total beberapa hari ke depan.” Adrian mengangguk berulang kali, tanda paham. Pandangannya sempat tertahan di wajah Biantara yang tampak lelah. Ia bisa menebak, sahabatnya itu kehabisan tenaga setelah berjam-jam menemani dan mengurus Melati di rumah sakit. “Barangkali

