“Mereka nggak akan tau kalau kamu nggak teriak.” Entah kenapa, cara Biantara bicara kali ini begitu dalam dan rendah. Tatapannya tidak lembut maupun dingin, tapi cukup membuat Kania paham jika pamannya memang ingin. “Semalam sudah cukup, Om.” Kania kembali berusaha menolak. "Aku capek." Biantara mengabaikan ucapan Kania. Ia kembali melumat bibir Kania dan mulai melancarkan keinginannya untuk melakukan lagi. Cara Biantara yang lebih manusiawi membuat Kania diam. Ia seolah mengizinkan untuk Biantara melakukannya lagi, meski tubuhnya pun belum pulih dari sakit semalam. Entahlah. Kania juga sulit mengartikan dirinya sendiri. Ia sadar ia telah sepenuhnya menjadi gadis murahan. Tapi, di sisi lain, ada dorongan untuk bersikap tunduk ketika diperlakukan selembut ini. Meski nyatanya, lemb

