Ia menjeda kalimatnya, memperhatikan reaksi Ranti sejenak sebelum melanjutkan, “Sementara, Non Melati … lucunya malah sering nitip Tuan yang lagi sakit ke Non Kania. Saya masih ingat banget waktu nggak sengaja dengar, ‘tolong Om kamu dulu, Kania. Kakak masih ada kerjaan’ terus Non Melati pergi lagi.” Mirah menggeleng pelan. “Sekarang Non Kania nggak ada, Tuan Bian jadi kayak kehilangan pawang.” Prang! Tiba-tiba spatula di tangan Ranti sengaja diletakkan kasar. Ia berbalik dan menatap Mirah dengan sorot tajam. “Menantu saya itu wanita karier, Mirah,” ucapnya dingin. “Wajar kalau dia banyak kerjaan.” Nada suaranya kini meninggi. “Kamu tahu apa soal karier? Dia minta tolong ke Kania itu wajar. Anak itu tinggal di sini juga bukan cuma-cuma. Apa salahnya membantu?” Mirah langsung menunduk

