“Gue dapet apa, kata lo?!” teriak Nala, suaranya pecah penuh amarah. “Orang kayak lo—yang bahkan nggak pernah tahu cara menghargai hubungan—mana bakal ngerti!” Naren mendecih sinis. Ia mendekat, terlalu dekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. “Lo sama Kania sama aja brengseknya,” katanya dingin. “Sama-sama nggak tahu diri.” “Cukup, Ren!” bentak Nala. Suaranya bergetar karena emosinya meluap tanpa kendali. “Nggak akan pernah cukup, Nal,” sergah Naren. Wajahnya mengeras. “Dia khianatin gue, dan lo malah bela pengkhianat itu seolah dia yang ngasih lo makan. Lo udah kayak b***k!” “B.a.jingan!” sembur Nala. “Jangan asal ngomong!” kedua tangannya mendorong d.a.da Naren. “Mau lo apa, hah? B.a.cot banget!” Kata-kata sarkas itu meluncur keras dari bibir Nala. “Gue nggak terima lo nampa

