Bab 26-4

786 Kata

Gerakan itu rapi, terukur, dan disaksikan oleh banyak tamu yang hadir. Tepuk tangan kecil terdengar, bisik kagum bersahutan pelan. Dan tanpa sadar, satu titik air mata Kania jatuh. Ia mengusapnya cepat, halus, agar tidak ada yang sempat memperhatikan. Tidak ada suara—hanya rasa yang menumpuk di balik d.a.da. Ia memperhatikan sekitar. Semua atensi tertuju pada pasangan yang tengah berbahagia itu. Tidak ada yang menoleh padanya. Dan mungkin itu lebih baik. Jepretan kamera fotografer dan kamera wartawan mengabadikan momen itu. Cahaya lampu flash menyilaukan ruangan sebentar, lalu kembali meredup. Pada saat itulah, Kania mengambil kesempatan untuk keluar. Tanpa membuat suara, tanpa menarik perhatian. Gadis tersebut menepi ke halaman samping. Di luar, udara lebih dingin, dan untuk pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN