“Pasti.” Kania mengangguk, membenarkan. “Tapi, aku butuh waktu buat tenangin pikiran.” Nala mendengkus sebal. Ia bersedekap d.a.da. “Gue paham banget perasaan lo, tapi ... jangan sampe bikin Bia juga punya pikiran negatif tentang lo. Lo harus terus terang kalo lagi di apart gue.” Saran dari Nala tidak diindahkan. Gadis itu tetap terjebak dalam keheningan panjang. Otaknya berpikir keras. “Kalo lo ngilang tanpa kabar, yang ada lo jadi amuk-amukan papa lo. Gue nggak mau lo kenapa-napa, Kania.” Kania menoleh mendengar ucapan Nala. Benar juga apa kata sahabatnya. Bisa jadi Yasmin tengah panik dan Hans tahu penyebabnya. Dan, jika benar, bisa dipastikan besok ia akan babak belur ketika pulang karena hukuman Hans yang selalu main tangan. Gegas Kania mengambil ponselnya yang sudah dalam kea

