Kania mengambil tumpukan kertas itu lalu membacanya sekilas. “Ini ... beneran harus dikerjain dan dibahas besok?” Elang mengangguk mantap. “Iya, Kak. Tapi, kalo Kakak keberatan, kita bagi dua. Elang kerjain soal nomer satu sampai tuju puluh, Kak Kania sisanya.” Gadis tersebut mempertimbangkan, lalu akhirnya mengangguk. “Boleh. Kakak masuk dulu, ya.” “Oke.” Elang pun berbalik. Ia melangkah dan masuk ke kamarnya sendiri. ** Dua hari kemudian .... Langit Beijing pagi ini berwarna abu terang. Udara dingin alami terasa menusuk setiap kali pintu hotel otomatis terbuka. Kania berdiri di depan kaca lobi. Ransel hitam di punggung dengan name-tag “Indonesia” tergantung di leher. Di luar, bus peserta Olimpiade Internasional sudah berjejer. Elang muncul dari arah lift dengan map di tangan.

