Dalam beberapa detik, Kania terjebak dalam perhatian yang datang begitu dekat. Ia tidak bergerak, hanya memperhatikan wajah pria di depannya. Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam dan dalam, membuat Kania tidak bisa berpaling. Ada sesuatu dari Biantara yang sulit dijelaskan—kuat, dingin, tapi memikat pada saat yang sama. Sempurna. Kini mantel itu terpasang di tubuh ramping Kania, jatuh rapi sampai menutupi tangannya. Biantara mengangkat kepala, dan tanpa sengaja tatapan keduanya saling bertemu. Kania masih memandangnya. Tatapannya kosong, tapi dalam. Seolah ia sedang berusaha mencari sesuatu di balik wajah pria itu—atau mungkin justru sedang berharap pria itu menemukan sesuatu dalam dirinya. Untuk sesaat, Biantara kehilangan kata. Cara pandang gadis itu membuat perasaannya tidak

