“Pertahankan apa yang kamu dapat sekarang.” Nada datar Biantara terdengar. Kania menoleh. Kalimat sederhana itu ditujukan padanya. Ia terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Iya, Om.” Tidak berselang lama, panitia mengarahkan semua peserta ke ruang resepsi. Meja panjang berisi beberapa hidangan ringan. Kania mengambil satu gelas jus, lalu duduk di kursi paling pinggir. Sementara Elang berdiri di sampingnya, berbicara singkat dengan peserta dari Korea Selatan. Mr. Adrian berbincang dengan delegasi lain di sisi ruangan. Pria tersebut membahas format lomba tahun depan. Di lain sisi, Biantara terlihat menepi. Ia berdiri di dekat jendela, menatap suasana malam Kota Beijing yang dipenuhi gemerlap lampu yang terang. Entah kenapa, Kania tiba-tiba tergerak untuk mengham

