Kania menyentuh perutnya. Dalam usia memasuki dua bulan, ia yakin akan menjadi awal masa sulit baginya. Perutnya sering kali menegang dalam beberapa waktu—terutama saat banyak tekanan dan merasa lelah. Seperti halnya kali ini, kram rasanya makin menyiksa. Kania hanya berusaha mengatur napasnya sebaik mungkin dan memberi usapan ringan berkali-kali. “Tenang, ya, Dek. Kita lalui ini sama-sama. Mama bakal usaha sebaik mungkin. Tolong kerja samanya, ya, Sayang.” Senyum getir terlihat di bibirnya yang tipis. Kania bahkan merasa miris dengan diri sendiri. Ia masih mengenakan seragam putih abu-abu, tapi panggilan ‘Mama’ yang disematkan untuk diri sendiri terpaksa terucap. Tapi, demi Tuhan! Ini bukan kemauannya. Ia tidak sengaja. Kania tidak pernah meminta takdir seperti ini. Ah, bukan. Bu

