Kali ini ia berdiri. Mengetuk pelan pintu kamar Kania yang tingginya sekitar dua meter. Lembut, wanita tersebut memanggil putri sulungnya sekali lagi. “Sayang, Bia mau bicara. Buka pintunya, Nak.” Tidak ada sahutan. Yasmin masih berdiri di sana, berharap Kania mau berbesar hati membuka pintu untuknya. Sampai saat tubuhnya hendak berbalik, suara pintu terbuka dari dalam terdengar. Daun pintu itu terbuka lebar, menampakkan sosok Kania yang berdiri di sana. “Maaf, Bia, tadi Kania lagi mandi.” Yasmin akhirnya mengembuskan napasnya lega. Ia kira putrinya itu marah dan berniat untuk mengurung diri di kamar. “Bia kira kamu marah, Sayang.” Kania tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Nggak, kok. Nggak ada alasan buat Kania marah sama Bia.” Ia menarik pintunya hingga terbuka makin lebar. “Ayo

