Deg. Mata Kania membesar. Ia tidak percaya Biantara bergerak secepat ini. Langkah pria itu benar-benar di luar dugaannya. Yasmin langsung menatap putrinya dengan sorot curiga. “Benar begitu, Kania?” Kania menggeleng cepat, hampir panik. “Nggak, Bia. Kania nggak ada niat kabur. Tapi….” Kalimat itu menggantung. Sudut matanya melirik Biantara yang berdiri tepat di sampingnya. Pria itu tersenyum miring—senyum yang lebih mirip kemenangan daripada simpati. Sorot matanya jelas mengejek. “Tapi kenapa, Nak?” Kania kembali menatap Yasmin. Ada getir yang sempat muncul di matanya sebelum ia menunduk lagi. “Nggak apa-apa, Bia.” Biantara tidak memberi ruang. “Melati sudah menawarkan diri untuk mengantar, Mba. Kania menolak dan pergi tanpa pamit.” Nada pria itu tenang, tapi setiap katanya sepe

