“Beda apanya?” Naren mencondongkan tubuh sedikit, penasaran. Kania menatapnya dari ujung rambut sampai ke sepatu. Sikapnya polos, tapi matanya benar-benar menilai. “Lebih keren pastinya. Tinggi banget kayak… tangga.” Tawa ringan pecah dari bibir Naren. “Tangga, Kan?” Kania ikut tersenyum kecil. Ia baru sadar, pria yang dulu sering dimarahi wali kelas karena baju yang selalu di luar standar, sekarang berdiri di hadapannya dengan gaya yang jauh lebih rapi. Lebih dewasa. Lebih ... tampan. “Pokoknya beda,” ucap Kania, singkat tapi jujur. "Kalau dulu kan--" "Ya, aku ngerti maksud kamu." Naren mengangguk, matanya hangat saat menatap gadis di depannya. “Namanya juga masih bocah. Sekarang, kalau mau begitu terus, nggak bakal jadi orang nanti.” Kania tersenyum. “Nah, gitu dong. Aku suka car

