Bab 47-3

716 Kata

Kania mengusap perutnya. Gerakan itu lembut. Seolah menjaga barang yang mudah rapuh, Kania menyentuhnya hati-hati. Selalu saja begini. Dan akhirnya, rasa kram itu berangsur pergi. Bukan karena obat, tapi cukup dengan sugesti yang cukup membuat janin di dalamnya tenang. ** Pagi hari .... Ting! [“Aku udah di depan rumah. Kita berangkat bareng.”] Mata Kania melebar saat melihat isi pesan yang baru saja masuk. Ia berlari ke arah balkon. Lelaki di luar gerbang tampak melambaikan tangan. Naren. Teman lamanya itu bahkan nekat menjemput tanpa memberitahu Kania lebih dulu. Padahal, kondisi rumah sedang tidak kondusif. Jangan sampai Hans melihat Naren dan melampiaskan amarahnya terhadap lelaki itu. Kania cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Ia menyambar tas ranselnya dan jaket yang dikena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN