Bab 49-4

802 Kata

“Kejar dia!” bentaknya. “Bawa dia kembali ke hadapan saya.” Hendrik menunduk patuh. “Baik, Tuan.” Tanpa menunda, ia langsung keluar, meninggalkan Biantara dalam kamar yang kini terasa lebih dingin daripada sebelumnya—dingin yang anehnya justru menusuk tepat ke dalam dadanya. Biantara hanya bisa mengembuskan napas panjang, berat, seolah ada beban yang menekan dadanya. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat pikirannya terasa lebih rileks—aroma minyak angin itu menyeruak lembut, menenangkan, seperti meredam kusut yang sejak tadi menjerat kepalanya. Ia menoleh ke sisi ranjang. Di sana, sebuah botol minyak angin aromaterapi tergeletak rapi. Biantara meraihnya, membuka tutupnya, lalu menghirup dalam. Aneh. Terlalu aneh. Beberapa hari lalu, bau seperti ini membuatnya mual sampai ingin muntah. S

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN