Ciuman itu berhasil terlepas. Tangan Kania terangkat ke udara, lalu memberi tamparan keras pada Biantara. Plak! “Om yang b******k! Kenapa Om lakuin ini ke aku?!” Biantara mematung. Apa yang dilakukannya tadi bahkan seperti tidak disadari. Keinginan itu hadir begitu saja. Ia tatap gadis yang kini mengusap bibirnya. Wajahnya memerah, antara menanggung malu dan merasa sakit hati. Mata bulat Kania terlihat basah. Bulir air mata turun ke pipi. Gadis tersebut seperti menanggung beban begitu dalam setelah Biantara melakukannya hal itu. Pria tersebut membeku di tempat. Ada sesuatu yang membuat hatinya perih saat melihat Kania menangis. Tapi, lagi-lagi Biantara tidak tahu sebabnya. Semua sulit dicerna dengan akal sehatnya. Kania sungguh seperti tengah mempermainkan hati Biantara. Pria

