Bab 54-4

1098 Kata

Kalimat itu meluncur begitu saja, tercampur antara kejujuran dan kelelahan batin yang sudah lama ia pendam. Kania menghentikan gerakannya sejenak, lalu mengangkat wajah. Pandangannya bertaut dengan Biantara yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip—tatapan yang sulit diartikan, terlalu dalam untuk sekadar kesal. Entah kenapa, kata-kata yang tadi terasa ringan saat diucapkan, kini menggantung janggal di udara. Seharusnya, doa itu terdengar wajar. Bahkan baik. Namun, ada rasa aneh yang menyelinap ke relung d**a Biantara—seperti sesuatu yang mendadak menyesakkan, tanpa alasan jelas. “Maksud kamu apa bicara seperti ini? Hm?” “Ya, nggak apa-apa. Ucapanku kan, doa. Kok, Om sensi gini, sih?” Biantara mengembuskan napas panjang, berat. Kania menangkap helaan itu, tapi memilih tak mengomentarin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN