Bab 57-2

719 Kata

“Om ngikutin Kania?” “Saya nggak punya waktu untuk itu.” Biantara menepis tatapan Kania dengan memalingkan wajah. Rahangnya mengeras, sorot matanya sengaja ditahan agar tidak terbaca. Ia memilih menyangkal—bukan karena tidak bersalah, melainkan karena enggan memberi pembenaran pada dugaan Kania. Padahal, kebohongan itu rapuh. Sangat rapuh. Faktanya, Biantara memang mengikuti gadis itu. Ia dengan sadar menolak ajakan Melati untuk datang ke butik Ranti. Untuk pertama kalinya, prioritasnya bergeser—bukan rapat, bukan calon istri, melainkan langkah Kania yang membuat pikirannya tidak tenang. “Terus Om tau dari mana?” Biantara tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan merayap di antara mereka, membeku di atas meja makan yang sebelumnya sudah sunyi. Udara terasa berat, seolah masin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN