Dalam hening panjang yang tercipta, Kania hanya menyandarkan kepalanya pada pintu mobil. Ia memeluk tasnya erat, seolah menjadikannya tameng terakhir yang tersisa. Beberapa menit kemudian, lelah yang tidak tertahankan mengambil alih. Kelopak matanya turun perlahan. Ia terlelap dengan sendirinya, setelah semalaman tidak tidur dan dipaksa menanggung beban batin yang ia sembunyikan rapat-rapat. Sesampainya di mansion, Biantara memasukkan mobilnya ke carport. Ia melirik ke arah gadis yang masih tertidur. “Bangun, Kania.” Tangan pria itu menyentuh lengan Kania, menggoyangnya pelan. Namun gadis itu tidak bergerak banyak, masih tenggelam dalam tidur yang gelisah. Tatapan Biantara melembut tanpa bisa ia kendalikan. Ia menyadari wajah Kania begitu lelah. Bahkan dalam tidurnya pun, setitik air

